Bab 1 Penciptaan - 1. Allah Menciptakan Manusia

Feb 18 at 7:56pm - admin
MANUSIA DAN CITRA DIRINYA
 
Allah menciptakan manusia melalui musyawarah (Kej 1:26). Manusia diciptakan oleh Allah, bukan dengan cara evolusi. Allah menciptakan manusia secara langsung, khusus, dan segera (Kej 1:27;2:7). Allah menciptakan manusia meliputi dua aspek, yaitu debu tanah dan kemudian meniupkan nafas hidup kepadanya, sedangkan Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam.
 
Manusia disebut sebagai mahkota ciptaan Allah, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Manusia diciptakan dalam rancangan yang khusus dan istimewa.
 
Membahas tentang manusia, kita harus mempelajari secara utuh, yang meliputi manusia asali, manusa lama dan manusia baru.
 
 
A. CITRA DIRI MANUSIA ASALI
 
Manusia asali dimaksud ialah manusia sebelum berdosa. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej 1:27;9:6). Menurut Perjanjian Lama kata “gambar” (tselem) merupakan konsep yang menunjuk pada enam esensi yang meliputi wujud, sifat, hubungan, eksistensi, dan statusnya di hadapan Allah dan di antara makhluk yang lain.
 
a. Wujud/bentuk
 
Jikalau kita disebut gambar Allah, seperti apakah Allah yang sesungguhnya? Allah itu Roh (Yoh 4:24). Kita tidak dapat membayangkan wujud Allah yang Roh itu, tetapi kita dapat mencoba untuk mengerti melalui penampakan Allah kepada Abraham (Kej 18:1-19:1). Abraham mengenali Allah sebagai manusia yang sama dengan dirinya. Hal itu bisa terjadi oleh karena Allah sendiri yang berkehendak menyatakan diri sebagai manusia kepada Abraham (Kej 18:1-15,33). Cara demikian disebut Teofani atau Kristofani. Kristofani adalah kekekalan Kristus di masa lampau, yang pada saatnya Dia menjelma sebagai manusia yang sesungguhnya.
 
b. Sifat
 
Manusia sebagai gambar-Nya, Allah mengaruniakan sifat-sifat-Nya kepada manusia. Manusia memiliki pikiran, perasaan dan kehendak seperti Allah. Manusia adalah makhluk pribadi, sebagaimana Allah adalah Pribadi.
 
c. Hubungan
 
Kesegambaran manusia dengan Allah menunjukkan hubungan kebergantungan manusia kepada Allah. Keadaan kebergantungan itu menciptakan hubungan yang erat dan mendalam, dan keadaan berhubungan itu diinginkan sendiri oleh Allah. Wujud dari hubungan itu adalah terjadinya persekutuan antara manusia dengan Allah.
 
d. Eksistensi manusia hanya oleh kehendak Allah.
 
Manusia tidak pernah akan ada, jikalau Allah tidak menciptakannya. Adanya manusia oleh karena Allah menghendakinya. Oleh karena itu, manusia memiliki hubungan kebergantungan dengan Allah, dan Allah bertanggung jawab atas keberadaan manusia.
 
e. Tetapi manusia bukanlah Allah.
 
Bagaimanapun manusia adalah manusia, sekalipun diciptakan menurut gambar Allah, namun manusia bukanlah Allah. Allah adalah pencipta, sedangkan manusia adalah makhluk. Sebagai makhluk, manusia harus mengabdi kepada penciptanya.
 
f. Manusia juga bukan binatang
 
Sebagai gambar Allah, manusia adalah seorang pribadi yang hidup oleh roh, jiwa dan tubuhnya. Binatang tidak disebut sebagai gambar Allah, oleh karena itu binatang bukanlah pribadi. Binatang hanyalah makhluk yang bertubuh dan berjiwa. Roh adalah unsur hakiki yang membedakan manusia dengan binatang.
No entries found.