Bab 1. Definisi Iman

Feb 26 at 6:41pm - admin
B. DEFINISI IMAN
 
Suratan Ibrani menulis, bahwa " Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" ( Ibrani 11:1 ).
 
Dua (dua) hal penting yang terkandung dalam definisi ini, yaitu bahwa iman adalah dasar dari pengharapan dan bukti dari yang tidak kelihatan.
 
1. Iman sebagai dasar dari pengharapan
 
Kita ambil contoh perumpamaan tentang seorang penabur (Mat 13:1-23). Sebelum menabur, seorang penabur berkeyakinan bahwa apa yang ditabur pasti akan dituai. Ia percaya, bahwa benih yang ditabur akan bertumbuh dan kalau benih itu tumbuh pasti akan berbuah. Buah itulah yang akan dituai. Menuai itulah pengharapan. Sebelum menuai, seorang penabur melakukan segala sesuatu yang diperlukan benih untuk bertumbuh dan kemudian berbuah, sehingga dapat dituai. Tindakan ini pun bagian dari dasar pengharapannya, yaitu menuai. Jikalau seorang penabur tidak yakin bahwa apa yang ditabur tidak akan tumbuh dan berbuah, sehingga tidak dapat dituai, pastilah seorang penabur tidak akan pernah melakukan perbuatannya.
 
2. Iman sebagai bukti dari yang tidak kelihatan
 
Menuai atau panen adalah bukti bahwa apa yang telah dilakukan itu berhasil. Namun disadari bahwa pada saat menabur hasilnya belum kelihatan. Taburan itu sendiri menjadi bukti yang dapat dilihat, sekalipun panen belum tiba. Jadi sebelum panen itu tiba, penabur sudah percaya bahwa kelak akan menuai. Perhatikanlah firman ini, "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."(Mar 4:11). Sebagai manusia yang dinamis, adalah wajar jika kita selalu memiliki pengharapan; berharap memiliki kesehatan yang baik, berharap berhasil dalam studi, berharap kebahagiaan dalam rumah tangga, berharap mendapatkan pekerjaan yang baik, sekaligus penghasilan yang memadai, usaha yang berhasil, berharap mendapatkan jodoh yang baik dan sepadan, berharap akan masa depan yang bahagia dan masih banyak hal lain lagi yang kita harapkan dalam kehidupan ini.
 
IMAN inilah yang harus menjadi dasar bagi segala pengharapan kita, dan jika kita bertekun di dalamnya maka iman akan membuktikan segala sesuatu yang kita harapkan itu yang tidak kita lihat sebelumnya.

C. SUBYEK IMAN
 
Kepada siapakah kita beriman? Ada 2 (dua) jenis iman yang dapat kita pelajari, yaitu iman yang menyelamatkan dan iman yang tidak menyelamatkan. Iman yang tidak menyelamatkan adalah iman yang tertuju kepada "sesuatu", bukan kepada "pribadi". Iman yang tertuju kepada sesuatu adalah iman yang tidak jelas atau iman yang kosong. Dan karena itu iman demikian tidak berkuasa untuk menyelamatkan. Sebab tidak mungkin "sesuatu" yang kosong itu dapat menyelamatkan manusia yang hidup dan berpribadi.
 
Sebaliknya, iman yang menyelamatkan ialah iman yang tertuju kepada seorang "pribadi" yang hidup dan berkuasa. Siapakah Dia? Dia adalah Allah pencipta yang telah mengejawantahkan diri-Nya sebagai pribadi Yesus Kristus (Yoh 1:1,14;3:16;Fil 2:5-7). Hanya oleh Dia-lah dunia diselamatkan (Kis 4:12).
 
1. Iman itu tertuju kepada Allah.
 
Siapakah Allah? Allah adalah Allah di dalam diri-Nya sendiri. Dia adalah Allah pencipta alam semesta. Hanya Dia yang tahu siapa diri-Nya (Kel 3:13,14). Dia adalah Allah yang Esa dan yang satu-satunya (Ul 6:4). Siapakah nama-Nya? Sebab tidak mungkin kita beriman kepada satu pribadi yang tidak kita ketahui identitasnya.
 
Ada 2 (dua) kelompok Nama Diri Allah, yaitu kelompok Nama El dan kelompok Nama Yehova. Nama itu tidak diberi oleh manusia, tetapi Nama itu dikaruniakan atau diperkenalkan oleh Allah sendiri kepada manusia (Kel 3:13,14). Mengapakah ada begitu banyak Nama untuk seorang Pribadi Allah? Karena tidak satu kata pun dalam bahasa manusia yang dapat menyimbulkan dan memberi gambaran secara utuh tentang Pribadi Allah yang Mahabesar dan Luar Biasa.
 
a. Kelompok nama EL
  • EL, nama Allah dalam bentuk tunggal yang berarti kuat, berkuasa (Kej 14:18).
  • ELOHIM, bentuk jamak dari pribadi Illahi/Trinitas (Kel 3:1-6).
  • EL-ELYON, artinya Allah Mahatinggi (Kej 14:18).
  • EL SHADDAI, artinya Allah yang menguatkan dan mensuplay kebutuhan kita (Kej 17:1)
  • EL GIBBOR, artinya Allah Yang Mahabesar (Yes 9:6).
 
b. Kelompok nama YEHOVA
  • YEHOVA, Yahweh atau TUHAN, artinya AKU ADALAH AKU (Kel 3:14,15).
  • YEHOVA JIREH, artinya Tuhan yang menyediakan dan mencukupkan (Kej 22:14).
  • YEHOVA RAPHA, artinya Tuhan yang menyembuhkan (Kel 15:26).
  • YEHOVA NISSI, artinya Tuhan adalah Panji Keselamatan (Kel 17:15).
  • YEHOVA SHALOM, artinya Tuhan Pendamai kita (Hak 6:24).
  • YEHOVA ROHI, Allah adalah Gembalaku (Maz 23:1).
  • YEHOVA TSIDKENU, artinya Allah adalah Kebenaran dan Keadilanku (Yer23:6).
  • YEHOVA SHAMMAH, Tuhan senantiasa beserta/hadir (Yeh 48:35).
 
Kepada Dia-lah, Allah Sang Pencipta langit dan bumi, setiap orang seharusnya beriman; percaya kepada-Nya, mempercayakan diri kepada-Nya dan percaya kepada segala firman dan janji-janji-Nya.
 
 
2. Iman itu tertuju kepada "Anak Domba Allah"
 
Siapakah Dia? Dia adalah Kristus Tuhan. Dia-pun menyandang nama-nama seperti El maupun YEHOVA.
 
  • YEHOVA ( Za 12:10b;Why 1:7 dayb).
  • ELOHIM (Yes 40:3;Luk 3:4 dayb).
  • ADONAI, artinya Tuan (Maz 110:1; Mat 22:44 dayb).
  • Anak Allah, Anak Domba Allah (Yoh 1:29 dayb).
 
Iman kita tertuju kepada Dia, yaitu "Anak Domba Allah", kepada "Anak Manusia", yaitu Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi manusia. Karena Dia-lah yang menyediakan kasih karunia dan kebenaran (Yoh 1:16,17). Jadi setiap orang yang memiliki iman kepada-Nya beroleh kasih karunia. Secara utuh Iman kita tertuju kepada Allah Pencipta langit dan bumi yang dinyatakan dalam nama Yesus Kristus, TUHAN kita (Kel 3:14 band Yoh 1:1-3;14:6).
 
 

D. ARTI HIDUP DALAM IMAN
 
Iman memang mempunyai pengertian "percaya", namun tidak sekedar percaya melainkan juga berserah kepada TUHAN (Maz 37:5). Percaya bahwa TUHAN berkuasa melakukan segala sesuatu dan berserah kepada TUHAN, agar Dia dengan leluasa melakukan segala sesuatu di dalam kita.
 
Demikianlah Abraham percaya kepada janji Allah, bahwa ia akan mempunyai anak laki-laki dari rahim Sara yang telah tertutup (Roma 4:20,21). Apa yang dijanjikan Allah itu pasti akan digenapi dan apa yang difirmankan-Nya itu pasti terjadi, maka terjadilah demikian kepada Abraham (Maz 33:9;Ibr 11:3). Hidup dalam iman berarti hidup tidak mengandalkan manusia, tidak mengandalkan diri sendiri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri; melainkan hidup berserah dan mengandalkan TUHAN.
 
Untuk itu maka kita harus menjadikan TUHAN sebagai sumber kehidupan, kita hidup dengan percaya dan mempercayakan diri kepada-Nya, hidup di dalam rencana-Nya dan hidup sesuai dengan firman-Nya.
 
1. Menjadikan TUHAN sumber kehidupan
 
TUHAN adalah sumber segala-galanya. Sumber hayat (Maz 36:10); sumber kepercayaan (Kis 14:23); sumber ketekunan (Roma 15:5); sumber pengharapan (Rm 15:13); sumber penghiburan (2 Kor 1:3); sumber kasih karunia (1 Pet 5:10); dsb. Dalam pengertian ini, hidup dalam iman artinya seseorang menjalani kehidupannya, baik kehidupan pribadinya, kehidupan nikahnya, dalam keluarga, dalam pekerjaannya, dalam usahanya, dalam masyarakat, sepanjang hidupnya di dalam dunia, bahwa kepada TUHAN-lah ia percaya. Bahwasanya Tuhan-lah yang berkuasa, yang memberi kehidupan, yang menyediakan segala kebutuhan selama hidup dalam dunia dan percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian.
 
2. Hidup karena percaya
 
Dalam kehidupan ini kita jumpai 2 (dua) kelompok manusia, yaitu kelompok orang yang hidup karena melihat dan yang lain adalah kelompok orang yang hidup karena percaya. Filipus mewakili kelompok orang yang hidup dengan melihat (Yoh 14:8,9); tetapi perwira Kapernaum mewakili kelompok percaya (Mat 8:5-13).
 
Dalam pengertian ini, hidup dalam iman adalah hidup bukan karena melihat tetapi karena percaya. Hal demikian sesuai dengan firman-Nya yang menyatakan bahwa, "Sebab hidup kami adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" (II Kor 5:7).
 
3. Hidup dalam rencana Allah
 
Manusia dapat hidup dalam 2 (dua) kemungkinan rencana, yaitu hidup menurut rencana Allah atau hidup menurut rencananya sendiri. Yakobus 4:13-17 memberi gambaran yang jelas tentang seseorang yang hidup dalam rancangannya sendiri, tanpa melibatkan Tuhan. Cara hidup sedemikian dinyatakan sebagai kesalahan. Hal sedemikian tidak berarti bahwa manusia tidak dibenarkan merencanakan hidupnya sendiri, tetapi meletakkan segala rencana hidupnya di atas rencana Allah.
 
Nabi Yeremia menulis, bahwa kita ini hidup dalam rancangan Allah (Yer 29:11). Rancangan itu baik dan memberi kepada kita hari depan yang penuh dengan pengharapan. Hidup dalam kebenaran rancangan Allah ditandai dengan adanya damai sejahtera, ketenangan dan ketenteraman (Yes 32:17).
 
Meskipun demikian dalam perjalanan hidup ini tidak selalu kita menikmati damai sejahtera, ketenangan dan ketenteraman. Hal ini terjadi jika ternyata ada benturan antara rancangan Allah dengan rancangan manusia. Benturan itu terjadi karena rancangan Allah itu berbeda dengan rancangan kita (Yes 55:8). Benturan-benturan itu memang membuat kita menjadi susah. Meskipun demikian janganlah kita menjadi takut dan tawar hati, karena kesusahan-kesusahan itu bersifat sementara, temporal dan segmental. Pada saatnya Allah akan menyatakan damai sejahtera, yaitu ketenangan dan ketenteraman yang sesungguhnya (band Ams 14:12;16:25).
 
Dalam pengertian ini, hidup dalam iman adalah hidup dalam rencana Allah, apa yang diputuskan, apa yang dilakukan bahkan yang sedang dialaminya, ia percaya bahwa hal itu merupakan bagian dari rencana Allah di dalam hidupnya.
 
4. Hidup sesuai dengan firman TUHAN.
 
Firman Tuhan berkata, "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:" (Ul 28:1,2)
 
"Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau:"(Ul 28:15).
 
Dari kedua sumber di atas menunjukkan kepada kita, bahwa hidup menurut firman Tuhan akan diberkati, tetapi hidup yang tidak taat kepada firman Tuhan akan mendatangkan kutuk.
 
Dalam pengertian ini, hidup dengan iman berarti hidup sesuai dengan apa yang menjadi perintah Tuhan, berpaut dengan firman Allah hidup dengan mengandalkan TUHAN. Dan firman itu telah menjadi manusia, diam di antara kita dan kemuliaan-Nya telah dinyatakan (Yoh 1:14).
 
Abraham dikenal sebagai "bapa iman", ketika masih bernama Abram ia telah melangkah untuk meninggalkan negerinya, meninggalkan rumah bapanya menuju ke suatu negeri yang belum ia ketahui oleh karena perintah Allah; maka ia meninggalkan negerinya untuk menerima janji-Nya. Di sini jelas, bahwa iman tidak dapat dipisahkan dengan Firman Allah, baik timbulnya iman, kekuatan iman maupun bekerjanya iman. Dengan demikian setiap orang yang beriman dan ingin melihat bekerjanya iman, maka ia pasti akan suka untuk merenungkan, berpegang dan melakukan Firman Tuhan.
 
 
E. SAKSI-SAKSI IMAN
 
Kesaksian tentang perbuatan iman itu akan menjadi nyata dan kokoh apabila didukung oleh kesaksian-kesaksian orang yang melakukan dan mengalaminya. Selengkapnya, mari kita baca saksi-saksi iman dalam Ibrani 11:1-40! Dari masing-masing saksi iman, kita dapat mengetahui bagaimana Allah berkenan kepada mereka yang beriman, bagaimana iman itu bekerja dan masing-masing memiliki spesifikasi perbuatan yang dilakukan karena iman.
 
1. Habel
 
Persembahan korban Habel berkenan di hati TUHAN dibanding persembahan Kain. Karena Habel mempersembahkannya dengan iman, dia mempersembahkan dengan hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan. Persembahannya adalah yang terbaik, karena Habel percaya apa yang diperolehnya berasal dari TUHAN, maka TUHAN-lah yang berhak menerima yang terbaik. Inti iman Habel adalah mengutamakan Tuhan.
 
2. Henokh
 
Karena iman Henokh terangkat sebelum kematiannya. Karena Henokh hidup bergaul dengan Allah, memiliki hubungan yang intim dengan TUHAN, berarti Henokh hidup seturut dengan firman TUHAN; ia memperoleh kesaksian bahwa ia berkenan kepada Allah. Inti iman Henokh adalah hati yang melekat kepada Tuhan.
 
3. Nuh
 
Nuh, karena iman telah menjadi taat melakukan perintah Allah untuk membangun bahtera, sekalipun ia tidak mengerti untuk apa ia membangun bahtera itu. Inti iman Nuh adalah ketaatan (Kej 6:9-22). Dan karena ketaatannya keselamatan terjadi bagi keluarganya ketika air bah itu datang.
 
4. Abraham
  • Karena iman, Abraham dengan taat meninggalkan negerinya karena perintah Allah menuju ke suatu negeri yang tidak ia ketahui. Dan karena iman ia tinggal di negeri asing. Inti iman Abraham yang pertama adalah penyerahan diri atau iman kehambaan (Kej 12:1-9).
  • Karena iman, Abraham dan Sara memperoleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah sangat tua untuk dapat memiliki anak, karena ia menganggap bahwa Dia yang memberikan janji itu setia. Di sini inti iman Abraham adalah percaya akan kuasa Allah (Roma 4:19-22).
  • Karena iman, Abraham tanpa kecemasan dan tanpa pertanyaan, ketika dia dicobai untuk mempersembahkan anaknya, Ishak, sekalipun dia menerima janji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Inti dari iman Abraham di sini ialah mengasihi Allah lebih dari kepentingannya sendiri (Kej 22:1-19)
5. Ishak
 
Dengan iman Ishak menabur di musim kering (Kej 26). Dengan iman, Ishak memberkati masa depan anak-anaknya. Inti imannya adalah percaya bahwa Allah itu setia (Kej 27).
 
6. Saksi-saksi lainnya
  • Yakub, dengan iman Yakub memberkati kedua anak Yusuf (Kej 47:31-48).
  • Yusuf, karena iman Yusuf berpesan kepada saudara-saudaranya supaya tulang-tulangnya turut dibawa pulang ke Tanah Perjanjian (Kej 50:24,25).
  • Musa, karena iman orang tuanya Musa disembunyikan dari ancaman Firaun (Kel 2:10-12).
  • Rahab, karena iman Rahab yang mengambil bagian dalam rencana Allah bagi Israel dan karenanya dia dan seisi rumahnya diselamatkan (Yos 2 band 1 Sam 15:2;Za 2:6-9;Kej 12:1-3).