Bab 5. Tiga Panggilan Utama

Feb 18 at 8:01pm - admin
TIGA PANGGILAN UTAMA
 
Melalui panggilan-Nya Allah menyediakan keselamatan bagi manusia. Ada tiga panggilan utama bagi umat Tuhan, yaitu panggilan untuk bertobat, panggilan untuk melayani dan panggilan untuk hidup dalam kekudusan (Mat 3:1-12). Ketiga panggilan ini berjalan secara bersama-sama dalam mengerjakan keselamatan selama menunggu kedatangan-Nya yang kedua.
 
Pada BAB V hanya akan dibahas dua panggilan terdahulu, yaitu panggilan untuk bertobat dan panggilan untuk melayani. Sedangkan panggilan untuk hidup dalam kekudusan dibahas secara khusus pada BAB VI.
 
 
A. PANGGILAN UNTUK BERTOBAT
 
Pada waktu Tuhan Yesus masih hidup dan melayani di bumi, perkataan yang diserukan pertamakali adalah: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 4:17). Demikian juga dengan Yohanes Pembaptis pada waktu mulai dalam pelayanannya kepada umat Israel (Mat 3:2). Allah memberikan jaminan dan keselamatan kepada setiap orang, bahwa barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Namun keselamatan itu adalah bagi mereka yang percaya oleh pemberitaan tentang Yesus Kristus (Roma 10:13-15).
Dasar dari pertobatan ialah iman kepada Yesus Kristus, Anak Domba Allah. Lima langkah dalam pertobatan, yaitu menyadari sebagai orang berdosa, berbalik dari tingkah-laku yang jahat, mengaku dosa, menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, serta hidup menurut kebenaran firman Allah.
 
1. Menyadari sebagai orang berdosa.
 
Pengakuan kita sebagai orang berdosa yang memerlukan pengampunan dosa dari Tuhan Yesus adalah langkah awal dalam pertobatan (Luk 15:18;1Yoh 1:8,9).
 
2. Berbalik dari perilaku yang jahat.
 
Bertobat adalah berbalik dari mengasihi dosa kepada membenci dosa dan mengasihi kebenaran. Berbalik dari cara hidup, dari pola pikir yang jahat dan sia-sia kepada hidup dalam kebenaran dan mengasihi Allah. Dari hidup menurut keinginan diri sendiri kepada hidup yang dipimpin oleh Tuhan (Mat 3:8,10).
 
3. Mengaku dosa.
 
Langkah selanjutnya adalah mengaku bahwa Yesus Kristus telah mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita, dikuburkan dan bangkit pada hari ketiga. Kalau kita datang kepada Yesus, mengaku dosa kita dan meminta pengampunan, maka Dia akan mengampuni segala dosa kita. Pengakuan kita ini adalah tanda, bahwa kita mau merendahkan diri. Kita datang kepada-Nya dengan percaya dan berharap, bahwa Tuhan akan memberikan belas kasihan-Nya kepada kita. Jika kita datang kepada-Nya dengan iman, maka Ia yang setia dan adil akan mengampuni dosa-dosa kita (Roma 10:9,10).
 
4. Menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
 
Menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah langkah selanjutnya setelah pengakuan. Setelah menerima Dia, kita juga minta kepada-Nya untuk memimpin hidup kita selanjutnya. Kita mengucap syukur kepada Bapa di sorga yang telah memberikan Yesus, sehingga hidup kita ditebus dan diselamatkan dalam nama-Nya. Dan setiap kita yang telah bertobat, diselamatkan oleh iman kepada Yesus (Yoh 1:12;Ef 2:8,9).
 
5. Hidup dalam terang firman Tuhan.
 
Orang yang hidup menurut terang firman Tuhan adalah orang yang hidup tidak menurut jalannya sendiri (Ams 26:5). Hidup menurut terang firman Tuhan akan membuat kita tidak tersesat (Ams 10:17), tidak terantuk (Yoh 11:9), hidup dalam berkat Allah (Ul 28:1-14), hidup dalam perlindungan-Nya (Maz 91;1 Yoh 5:18), hidup dalam kebenaran-Nya (Yoh 3:21) dan dituntun dalam keselamatan-Nya (2 Tim 3:15).
 
 
B. PANGGILAN UNTUK MELAYANI
 
Konsep pelayanan Gerejawi berasal dari sorga. Di sorga para malaikat siang-malam melayani Tuhan tanpa henti (Why 4:8,9;Luk 1:19). Mereka adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk melayani Dia. Sesuai dengan konsep pelayanan sorgawi ini, maka setiap orang percaya dipanggil juga untuk melayani Tuhan dan sesama (Roma 15:27;Fil 2:17;Film 13;1 Pet 2:16).
 
Melayani sebagai panggilan artinya kita merespon karya keselamatan Allah di dalam kehidupan kita dengan menjadi rekan sekerja Allah mengerjakan tugas-tugas ilahi dan mengerjakan perawatan kepada jemaat-Nya sampai Tuhan Yesus datang kembali (1 Kor 3:9).
 
Allah mempunyai rencana untuk kehidupan setiap orang percaya di dalam Kristus. Panggilan-Nya tidak hanya menyangkut tujuan yang indah dalam kekekalan, tetapi kita juga memiliki suatu pernyataan panggilan tersebut di bumi sekarang ini. Panggilan untuk saling melayani sebagai manusia ciptaan baru, yang beroleh kelahiran kembali untuk dapat melihat dan tinggal di dalam Kerajaan Allah.
 
Alkitab menyebutkan lima bidang pelayanan, yaitu pelayanan dalam lima jawatan Gereja, pelayanan diakonia, pelayanan ibadat dan pelayanan jemaat.
 
1. Pelayanan lima jawatan Gereja.
 
Pelayanan kelima jawatan Gereja ini secara khusus akan dibicarakan pada kelas pengharapan. Namun pada bagian ini kita akan lihat sekilas tentang kelima jawatan tersebut. Kepada jemaat di Efesus rasul Paulus menulis, bahwa kelima jawatan gereja dimaksud ialah pelayanan kerasulan, pelayanan kenabian, pelayanan pemberitaan Injil, pelayanan penggembalaan dan pelayanan pengajaran (Ef 4:11). Kelima bidang pelayanan ini dimaksudkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pembangunan tubuh Kristus (Ef 4:12).
 
2. Pelayanan Diakonia.
 
Pelayanan Diakonia (Diakonos) adalah pelayanan dengan tugas-tugas tertentu (Kis 6:1-7). Sumber ini menyebutkan, sehubungan dengan semakin bertambah luasnya pelayanan kepada jemaat, maka para Rasul memilih tujuh orang pelayan untuk melayani jemaat dengan tugas khusus pelayanan meja. Hal ini diperlukan untuk mengimbangi pelayanan firman, supaya rasul-rasul dapat melakukan pelayanan firman dengan lebih leluasa (Kis 6:2-4).
 
3. Pelayanan Ibadat.
 
Pelayanan ibadat disebut pelayanan liturgi (Leitourgos). Pelayanan Leitorgos ialah pelayanan dalam ibadah jemaat (Luk 1:23), yaitu tugas-tugas pelayanan keimaman di Bait Allah. Menurut Perjanjian Lama imam-imam besar melaksanakan tugasnya di Bait Allah untuk memimpin ibadah korban. Dalam Perjanjian Baru kita dapati misalnya imam Zakharia (Luk 1:8-23).
 
4. Pelayanan Jemaat.
 
Kepada jemaat di Roma rasul Paulus menulis, bahwa ada banyak ladang pelayanan bagi jemaat. Pelayanan bernubuat, diakonia, mengajar, menasihati, membagi-bagikan sesuatu, memimpin dan kemurahan (Roma 12:6-8). Kepada jemaat di Korintus rasul Paulus juga menulis tentang pelayanan kerasulan, kenabian, pengajaran, mujizat, kesembuhan, berkata-kata dalam bahasa roh, dan menafsirkan bahasa Roh (1 Kor 12:28-30). Jenis-jenis pelayanan ini muncul oleh karena karunia Roh Kudus dan dimaksudkan untuk membangun Jemaat atau membangun Tubuh Kristus.
 
5.Pelayanan tanpa batas.
 
Secara lebih luas, yang disebut pelayanan adalah segala sesuatu yang kita lakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Sikap hati yang diperlukan dalam pelayanan adalah sikap hati sebagai hamba. Untuk melayani Tuhan, lakukanlah tugas pelayanan itu sesuai dengan talenta dan karunia yang ada pada kita. Kita ambil setiap kesempatan untuk dapat melayani, sebab setiap kesempatan adalah kepercayaan Tuhan. Untuk setiap kepercayaan Allah senantiasa memperlengkapi (Kis 1:8;Roma 12:6-8).
 
 
C. TIGA RANGKAP PELAYANAN.
 
Tiga rangkap pelayanan ini merupakan hirarkhi dan sekaligus berjalan bersama-sama. Sebagai hirarkhi, orang tidak mungkin dapat melayani sesama, apalagi melayani Tuhan, jika tidak terlebih dahulu melayani diri sendiri. Dan ketiganya ini merupakan satu pasangan yang utuh, dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
 
1. Melayani diri sendiri.
 
Melayani diri sendiri adalah mambina hubungan pribadi dengan Allah, supaya dengan kekayaan pengalaman dengan Allah kita dapat melayani sesama dan melayani Tuhan. Kita menemukan contoh pelayanan diri sendiri ini pada Musa, Yosua, Daud dan Daniel.
 
a. Musa.
 
Pada awalnya Musa adalah seorang pilihan. Oleh ketaatan dan kerendahan hatinya Allah memilihnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Dan oleh persekutuannya dengan Tuhan, Tuhan mempercayakan sepuluh hukum kepada umat Israel (Kel 19-20:17).
 
b. Yosua.
 
Persekutuan Yosua dengan Allah menghasilkan pilihan Allah atas dirinya untuk menggantikan kepemimpinan Musa dan membawa bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian (Kel 33:11;Yos 1).
 
c. Daud
 
Daud menyatakan bahwa tujuh kali sehari bersekutu dan memuji-muji Tuhan (Maz 119:164). Buah dari persekutuannya dengan Tuhan mengakibatkan Daud mampu memerintah bangsanya, mengalahkan musuh-musuhnya dan namanya dikenan Allah.
 
d. Daniel.
 
Daniel bersekutu dengan Allah tiga kali sehari (Dan 6:11). Akibat dari persekutuannya dengan Tuhan Daniel memiliki hikmat yang luar biasa, dimampukan menjadi pejabat yang berkualitas, dan dibebaskan dari hukuman gua singa.
 
2. Melayani sesama.
 
Seorang percaya yang sudah bisa melayani dirinya sendiri, barulah dapat melayani sesamanya. Tuhan Yesus menjadi model bagi murid-murid-Nya dan juga bagi kita dalam melayani sesama. Sepanjang pelayanan-Nya Dia menjadi contoh dengan merendahkan diri-Nya mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-20). Selesai mencuci kaki murid-murid-Nya Tuhan Yesus bersabda, supaya kita saling melayani dan saling mengasihi.
 
3. Melayani Tuhan.
 
Seorang yang tidak bisa melayani dirinya sendiri, tidak mungkin bisa melayani sesamanya dan mustahil bisa melayani Tuhan. Sebab jika sesamanya yang kelihatan tidak bisa melayani, apalagi Tuhan yang tidak kelihatan (1 Yoh 4:20,21).
 
Bagaimana kita melayani Tuhan?
  • Layanilah Tuhan di Bait-Nya seperti Samuel (1 Sam 3).
  • Layanilah Tuhan di Gereja-Nya seperti ketujuh diaken (Kis 6:1-7).
  • Layanilah Tuhan sesuai dengan talenta dan karunia yang ada pada kita (1 Kor 12;1 Pet 4:10). 
  • Layanilah Tuhan dengan memberitakan Injil-Nya seperti rasul-rasul
    (Mat 28:18-20;1 Kor 9:16).
  • Layanilah Tuhan dengan hati hamba (1 Pet 2:16;Yoh 13:1-20).
  • Layanilah Tuhan dengan melayani sesama (Mat 25:31-46).
  • Layanilah Tuhan hari ini, tidak menunda dan tidak beralasan
    (Mat 21:28-32).
  • Layanilah Tuhan dengan kesediaan hati (2 Tim 4:2).
Intinya, layanilah Tuhan dengan masuk ke dalam kebun anggurnya sesuai dengan talenta dan karunia yang telah diberikan kepada kita masing-masing (Mat 20:1-16).
 
MOTIVASI DALAM PELAYANAN
 
Melayani sesungguhnya merupakan salah satu manifestasi dari kasih kita kepada Allah. Sebagaimana kita mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, demikian jugalah kita melayani Tuhan. Tidak ada motivasi lain di dalam pelayanan selain dari sikap hati yang mengasihi Allah. Modal dasar yang harus dimiliki oleh seorang pelayan adalah kerendahan hari, yaitu sikap hati sebagai hamba (Kis 20:19).
 
1. Sikap hati yang keliru dalam pelayanan
  • Mencari keuntungan (1 Sam 2:12-17 band Kis 8:18,19).
  • Mengejar upah (1 Kor 9:17,18).
  • Untuk menonjolkan diri (2 Sam 1:1-16 band Luk 18:9-14).
  • Untuk mencari pujian manusia (Mat 6: 2 band Roma 2:29).
2. Sikap hati yang benar dalam pelayanan.
  • Melayani dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (Mat 22:37-40).
  • Melayani karena perasan berhutang (Roma 1:14).
  • Melayani karena mengasihi (Gal 5:13).
  • Melayani karena meneladan Kristus (Yoh 13:1-20).
KUALIFIKASI PELAYAN TUHAN
 
Kepada Timotius rasul Paulus menulis, bahwa untuk menjadi seorang pelayan Tuhan haruslah seorang yang tidak bercacat.Untuk itu, maka diperlukan persyaratan tertentu, agar mereka melayani tidak asal mau, asal bisa, asal jadi atau melayani dengan alakadarnya. Secara khusus rasul Paulus menuliskan tentang syarat-syarat itu untuk jabatan penilik jemaat dan diaken, tetapi secara umum persyaratan itu dapat berlaku bagi semua pelayan Tuhan. Persyaratan dimaksud adalah seperti berikut ini:
 
  • Suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan suka memberi tumpangan, cakap mengajar, bukan peminum, bukan pemarah, peramah, pendamai, bukan hamba uang, kepala keluarga yang baik, bukan petobat baru, mempunyai nama baik di luar jemaat (1 Tim 3:1-7).
  • Terhormat, tidak bercabang lidah, tidak penggemar anggur, tidak serakah, pemelihara rahasia iman dalam hati nurani yang murni, teruji, suami dari satu isteri, pengurus keluarga yang baik. Jika dia seorang isteri haruslah seorang isteri yang terhormat, jangan pemfitnah, dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal (1 Tim 3:8-13).
 
PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN DALAM MERESPON PANGGILAN UNTUK MELAYANI.
 
Banyak pertimbangan yang diperlukan untuk mengambil keputusan melayani Tuhan. Hal itu dimaksudkan, agar segala sesuatunya menjadi baik dan terhindar dari kerepotan, cacat dan penyesalan.
 
1. Mendahulukan layanan ke dalam, baru melayani keluar (Kis 1:8).
 
Nama Yerusalem lazim dialegorikan dengan keluarga sendiri atau diri sendiri. Setelah diri sendiri atau keluarga sendiri kuat dan layak untuk menjadi saksi, barulah mengembangkan pelayanan ke luar.
 
2. Melayani secara seimbang ke dalam dan ke luar (Kis 6:1-7).
 
Ketika pelayanan firman begitu melesat, didapati di dalamnya pelayanan meja terbengkalai. Untuk mengatasi kepincangan ini maka dipilih tujuh orang Diaken untuk menyelesaikan pelayanan ke dalam, agar terjadi keseimbangan.
 
3. Mendahulukan pelayanan keluar baru ke dalam (Mat 6:33).
 
Segala sesuatu akan ditambahkan oleh Tuhan, jika kita mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah. Untuk ini Musa menjadi contoh yang baik.bagi kita. Musa meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk melakukan misi Tuhan ke Mesir. Olehnya umat Israel telah mendapatkan pembebasan dari perbudakan di Mesir. Sebagai upahnya Musa mendapatkan kembali keluarganya (Kel 3-5,18), bahkan lebih dari itu Musa menjadi pemimpin besar yang disegani umat Israel dan dikasihi Tuhan.
 
4. Melayani dengan skala prioritas.
 
Dalam kapasitas kita sebagai pelayan, pada suatu waktu dituntut untuk membuat skala prioritas, sehubungan dengan banyaknya pilihan dalam pelayanan. Seorang pelayan Tuhan harus mampu membuat skala prioritas tentang mana yang terlebih penting untuk didahulukan. Bukan atas dasar kepentingan pribadi, tetapi atas kepentingan pelayanan bagi Tuhan.
 
5. Melayani dengan panggilan khusus.
 
Berbeda dengan keempat jenis panggilan pelayanan di atas. Panggilan untuk melayani secara khusus melampaui keempat pilihan di atas. Dalam Perjanjian Lama panggilan khusus dapat kita temukan pada Simson (Hak 13-16), Gideon (Hak 6-8), Samuel (1 Sam 3), Elia (1 Raja 17), Elisa (1 Raja19), dsb. Dalam Perjanjian Baru misalnya Rasul Paulus (Kis 9), keduabelas rasul (Mat 10:1-15), Timotius, dsb.