Panggilan dan Teladan
MENGABDI KEPADA TUHAN ALLAH - Bagian 50
1. ABRAHAM
2. ISHAK Tokoh Ketaatan
3. YAKUB mendapat perlindungan Allah.
4. YUSUF Tokoh yang tidak tergoda.
5. Musa Pemimpin Berani Mengambil Keputusan
6. Harun Juru Bicara Yang Pandai
7. Miryam Nabiah Yang Cinta Musik.
8. YOSUA BIN NUN
9. Kaleb
10 Henokh
Kehidupan Pribadi Henokh
1. Menjalani kehidupan yang unik
2. Memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang sezamannya.
3. Memiliki iman yang teguh
4. Memiliki ketetapan hati
Tekad Henokh untuk hidup bergaul dengan Allah membuktikan bahwa ia mempercayai Allah. Ia sudah merasakan kasih dan kebaikan Allah, karena itu ia hanya menyenangkan hati Allah saja. Ia tidak mau mendua hati. Yakobus sendiri di kemudian hari mengatakan supaya kita tidak mendua hati, sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya (Yakobus 1:8). Henokh adalah salah satu tokoh Alkitab atau orang yang menimati persekutuan yang akrab dengan Allah. Bila kita memperhatikan bagian Alkitab ini, maka tidak sedikitpun ada gangguan dalam hubungannya. Baik dengan Allah maupun dengan orang-orang yang hidup pada zamannya. Ini dapat terjadi karena ia telah berketetapan untuk hidup bergaul dengan Allah.
Integritas Henokh
Pertama. Dalam Masyarakat.
Henokh memiliki integritas di tengah-tengah saudara-saudara dan anak-anaknya, sangat mengagumkan. Karena Henokh telah berketetapan hati untuk menyembah hanya kepada Allah saja di antara orang-orang sezamannya. Ia dikenal sebagai orang yang hidup sesuai dengan firman Allah, kehidupannya telah menjadi suatu kesaksian yang indah di hadapan mereka.
Kedua. Dalam Lingkungan Keluarga.
Meskipun penjelasan Alkitab tidak panjang lebar mengenai iman Metusalah, anaknya, namun satu hal tidak dapat disangkal adalah bahwa Henokh telah menanamkan dasar-dasar iman yang benar kepada anak-anaknya ini. Usia Metusalah yang panjang boleh jadi merupakan pengaruh pendidikan iman yang ditanamkan Henokh kepadanya. Pendidikan iman dalam keluarga Henokh ini berlanjut sampai generasi berikutnya, yaitu kepada Nuh anak Lamekh atau Metusalah. Namun harus diakui bahwa masih banyak di antara mereka yang imannya tidak seteguh iman Henokh dan Nuh.
Bersambung.
| 30.01.2011 | Pdt. Adolf Antjura, M.Th |