KERENDAHAN HATI DI HADAPAN TUHAN
Nov 29 at 8:43pm - admin
Tema 10 tahun: "DAUNNYA TETAP HIJAU (EVERGREEN)"
Sub tema : "KERENDAHAN HATI DI HADAPAN TUHAN"
Ayat Bacaan : Mikha 6:8
PENDAHULUAN:
Hal ketiga dari tuntutan Tuhan melalui firmanNya yang kita baca adalah kerendahan hati di hadapan Tuhan. Sepertinya hanya di hadapan Tuhan saja kita dituntut untuk rendah hati, tetapi sesungguhnya sebagaimana setiap orang yang mengasihi Tuhan akan ditunjukkan dengan mengasihi sesamanya demikian juga halnya dengan seorang yang mau merendahkan hati di hadapan Tuhan harus menyatakannya di hadapan manusia. Teladannya adalah Tuhan Yesus sendiri seperti yang ternyata dalam Filipi 2:5-8.
POKOK BAHASAN:
Kerendahan hati bukanlah soal sikap tubuh yang merunduk-runduk ketika melewati/menghadapi seseorang seperti seorang abdi dalem saja, tetapi lebih kepada sikap hati dan pikiran yang menunjukkan:
1. Tidak mempertahankan sesuatu yang berharga yang ada dalam kita.
Seperti Yesus yang setara dengan Allah tidak menganggap kesetaraanNya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melainkan mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Demikianlah kita yang mau merendahkan hati di hadapan Tuhan harus mau merelakan apa-apa yang kita anggap berharga dari diri kita untuk menghargai orang lain lebih dari segala yang berharga dari diri kita. Mungkin itu keahlian, kemampuan, harkat, jabatan, pangkat atau harta, relakan untuk tidak dianggap dan biarkan orang lain kita buat lebih berharga dari kita.
2. Tidak mementingkan kepentingan sendiri
Melainkan kepentingan orang lain lebih diutamakan
Maka Tuhan akan melihat bahwa langkah-langkah kita untuk mendekat dan merendahkan hati di hadapanNya menjadi nyata.
3. Mengandalkan Tuhan
Dalam setiap persoalan hidup yang muncul di hadapan kita.
Tidak lagi mengandalkan manusia baik itu orang lain atau diri sendiri.
KESIMPULAN / APLIKASI:
Point yang ketiga menjadi yang yang penting karena jika kita mulai mengandalkan manusia baik itu diri sendiri maupun orang lain maka kita disebut sebagai orang yang sombong atau tinggi hati. Yang jelas percaya diri kita pun bukan karena kemampuan manusiawi kita tetapi karena Roh Allah yang bekerja di dalam kita sehingga percaya diri kita bukan sebagai seorang yang tinggi hati. hati-hati kesombongan awal kehancuran.