MENGHORMATI KEKUDUSAN TUHAN - BAGIAN 2

Sep 25 at 9:14pm - admin
MENGHORMATI KEKUDUSAN TUHAN - BAGIAN 2
Bil 20:2-13

Musa sebagai pemimpin umat Israel waktu itu sempat juga tidak menghormati kekudusan Tuhan. Padahal Musa adalah seorang yang lemah lembut hatinya dan tidak ada seorangpun lainnya yang dapat menyamai karakternya ini. Dia juga seorang yang sabar, namun akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa Tuhan menyebutnya sebagai seorang yang tidak menghormati kekudusan Tuhan. Karena umat yang mengajaknya bertengkar telah membuat dirinya menjadi seorang yang emosional. Tuhan memerintahkan kepada dia dan Harun untuk bersama dengan seluruh umat berdiri menghadap ke batu yang ditunjuk Allah lalu berkata kepada batu itu untuk mengeluarkan air, namun apa yang dilakukannya adalah memukulnya bahkan hingga dua kali.

Kapan kita tidak menguduskan Tuhan dalam hidup kita? Dari sisi bangsa Israel mereka bersungut-sungut dan mengajak bertengkar dengan pemimpinnya. Jadi bukan soal tempat kita bisa menghormati kekudusan Tuhan, tetapi soal sikap dan perkataan. Ayat 11, Musa dinilai Tuhan tidak percaya dan tidak menghormati kekudusan Tuhan karena sikap dan perkataan mereka yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Seharusnya mereka berkata tanpa bertindak, tetapi mereka malah bertindak dan tidak berkata-kata kepada batu untuk mengeluarkan air dari dalamnya. Iman atau percaya harus dibuktikan ketika menghadapi tantangan kehidupan. Saya (Gembala Sidang) dan keluarga telah mengambil sikap untuk tetap percaya dan menyembah Tuhan apapun keadaan hidup yang kami alami. Tidak memberontak. Bertobat berarti masuk dalam rencana Tuhan, hidup bagi Allah dan hidup untuk melayani Dia. Tuhan sedang mengajar kita untuk hidup dalam iman. Sekecil apapun persoalan atau seberat apapun masalahnya, saya mengajak untuk kita tetap mantap percaya dan menyembah Tuhan, karena sesungguhnya Dia sedang melatih kita hidup dengan iman.

Melalui segala bentuk kejadian dan keadaan yang kita alami Tuhan juga sedang mengajar kita untuk tunduk dengan rencana Tuhan dan bukan lagi hidup untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Selama ada kepentingan pribadi maka ada penentangan terhadap Allah dan sedang mengajak tengkar Tuhan. Bangsa Israel mengeluh dan bersungut karena membaca keadaan pribadinya yang sama sekali tidak menguntungkan mereka sehingga kepentingan pribadinya lebih kuat menguasainya daripada kepentingan Allah, inilah yang membuat mereka menjadi orang-orang yang tidak menghormati kekudusan Tuhan. Ingatlah peringatan Tuhan dalam Tesalonika untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal.

Ketika kita mengeluh dalam pergumulan kita sedang bertentangan dengan Tuhan yang sedang mengajar kita untuk memiliki ketekunan. Ibrani 10:35-36, kita semua memerlukan ketekunan dalam menyelesaikan kehendak Allah dan menerima apa yang dijanjikan. Tuhan tidak akan menggenapkan janjiNya ketika di dalam kita tidak ada ketekunan. Sepertinya akan sia-sia seperti melemparkan mutiara kepada babi. Janji bagi orang yang memiliki ketekunan adalah tidak akan melupakan Tuhan. Tuhan menghendaki kita menjadi orang yang bijaksana bukan orang yang bodoh. Taat pada firman, karena Tuhan senantiasa menyertai kita sama seperti ketika Tuhan menyertai bangsa Israel dengan tiang awan dan tiang api. Amin.

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. M. Sudhi Dharma, M.Th
Kebaktian Doa Malam - Minggu, 28 Agustus 2011
Di GBI Diaspora Surabaya - Pondok Daud
 
Artikel Mingguan