MENGHORMATI KEKUDUSAN TUHAN - BAGIAN 1
Sep 16 at 11:17pm - admin
Tema 10 tahun: "DAUNNYA TETAP HIJAU (EVERGREEN)"
Sub tema : "MENGHORMATI KEKUDUSAN TUHAN - BAGIAN 1"
Ayat Bacaan : Bilangan 20:2-13
PENDAHULUAN:
Tanpa kekudusan kita tidak dapat melihat Tuhan. Demikian bunyi salah
satu ayat firman Tuhan. Dan kita menanggapinya dengan ya dan amin.
Tetapi sejauh mana pemahaman kita akan kekudusan yang Tuhan kehendaki.
Apakah kita masih berpikir bahwa kekudusan berarti menyangkut suatu
tempat tertentu di bumi ini? Sesungguhnya tidak ada buatan tangan
manusia dianggap sebagai tempat kudus dalam pandangan Allah. Kekudusan
adalah langkah awal Allah dalam menyatakan karya keselamatan bagi
manusia. Jadi bagi setiap orang yang percaya kepada karyaNya wajib
memiliki kekudusan dalam hidupnya dan menjagainya. Kekudusan inilah yang
membawa kita kepada kelayakan, pembenaran, dan keselamatan. Dan karena
kita sudah diselamatkan maka kita berbuat baik demi menjaga kekudusan.
Sungguh inilah yang membedakan perbuatan baik kita yang sudah
diselamatkan dengan mereka yang belum percaya yang melakukan perbuatan
baik demi diselamatkan.
POKOK BAHASAN:
Tindakan Allah menguduskan adalah wujud atau pernyataan kasih yang begitu besar yang sampai-sampai harus diteladani seorang suami (Ef 5:25) sebagai kepala rumah tangga. Dalam kisah nyata pada bacaan kita kali ini terlihat sikap yang ditunjukkan oleh dua kelompok manusia yang menunjukkan sikap tidak menghormati Tuhan, yaitu bangsa atau umat Israel dan Musa/Harun sebagai pemimpin umat atau bangsa itu. Kita akan belajar dari sikap bangsa atau umat Israel terlebih dahulu. Mereka ini:
1. Berkata-kata yang tidak menghormati Tuhan (ayat 3-5).
Sekalipun secara nyata ditujukan kepada Musa/Harun.
Menganggap bahwa di Mesir jauh lebih baik daripada di padang gurun. Menganggap lebih baik mati daripada mengalami keadaan seperti di padang gurun. Jadi perkataan mereka ini sudah menyatakan sikap tidak menghormati Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir.
2. Melupakan pertolongan Tuhan di masa lalu.
Sehingga lupa bahwa Tuhan sanggup untuk menolong mereka.
Di Mara, Tuhan pernah menolong dengan mengubah air pahit menjadi manis. Dan sebenarnya di Meriba pun Tuhan hendak menolong namun mereka tidak sabar.
KESIMPULAN/KARAKTER:
Sebagai umat Tuhan, jangan pernah sekalipun di antara kita yang sudah menerima pengudusan mencorengnya dengan perkataan dan pemikiran kita sendiri. Sebab Tuhan mau dan selalu sanggup menolong kita.