Evergreen II.1 - SAHABAT SEJATI

Apr 30 at 2:19am - admin
SAHABAT SEJATI
(Roma 10:13,14)
 
Rencana Allah atas dunia adalah keselamatan bagi manusia. Keselamatan bukanlah langkah awal, tetapi hasil akhir setelah melewati beberapa tahapan. Ayat yang telah kita baca tadi menjelaskan bahwa untuk mencapai keselamatan, seseorang harus melalui 4 tahapan, yaitu berseru, percaya, mendengar dan memberitakan. Keempatnya setara dalam menghasilkan keselamatan.
 
Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan betapa pentingnya mendengar. Mendengar merupakan langkah awal sebelum percaya, sebelum berseru dan sebelum memberitakan firman. Seseorang tidak mungkin percaya tanpa mendengar. Tidak mungkin berseru tanpa mendengar dan percaya. Demikian juga tidak mungkin dapat memberitakan firman sebelum mendengar, percaya dan berseru. Kemauan untuk mendengar akan menentukan hasil yang akan kita terima dari Tuhan. Sebaliknya tanpa mendengar kita akan jauh dari memahami rencana Allah tentang keselamatan.

SIAPAKAH YANG DIIJINKAN MASUK KE DALAM HATIMU?

Menemukan sahabat adalah suatu proses. Mulai dari interoduksi, konteks, frienship/ relationship baru kemudian membuat keputusan. Sahabat sejati adalah seseorang yang dipercaya dan yang memegang komitmen.
 
Contoh: Kalau saya sebagai pribadi, maka sahabat sejati yang pertama dan utama adalah Tuhan Yesus. Sedudah itu barulah isteri saya, anak-anak saya dan kemudian baru sahabat-sahabat yang lain di sekitar saya. Di mana saya dapat mempercaya dan saling memegang komitmen.
 
Ams 27:17-19: ”Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa menjaga tuannya akan dihormati. Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.”
 
Ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa pembentukan atau pematangan pribadi seseorang ditentukan oleh kerelaannya digosok oleh orang lain. Dengan persekutuan dengan sesamanya manusia akan mengalami penajaman-penajaman. Penggesek-penggesek bukanlah orang jauh, melainkan oleh orang-orang yang terdekat dengan kita. Orang bodoh yang bergaul dengan orang bnodoh akan tetap menjadi bodoh, tetapi orang bodoh yang mau bergaul dengan orang pintar, maka dia akan menjadi pintar. Jika orang tidak baik mau bergaul dengan orang baik, maka dia akan menjadi baik. Tetapi kalau orang yang tidak baik hanya mau bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, maka dia akan tetap menjadi orang yang tidak baik. Kalau Saudara tahu bahwa orang yang kepadanya Saudara bergaul itu tidak baik, jangan diteruskan. Putus sampai di situ saja, sebab jika tidak demikian justru Saudara yang akan rusak. Barangsiapa bergaul dengan orang jahat dia akan menjadi serupa dengan dia.
 
Perjumpaan dengan sahabat sejati bukanlah suatu kebetulan dan menemukan sahabat sejati adalah proses. Berhati-hatilah mencari sahabat sejati. Sebelum Saudara menemukan sahabat sejati, Saudara harus berpatokan bahwa Yesus adalah sahabat sejati Saudara yang pertama dan utama.
 
Ketika Saudara mulai mengadakan pendekatan, Saudara harus melihat bibit, bebet dan bobot orang yang Saudara dekati. Tindakan melihat itu adalah tindakan koreksi sebelum suatu keputusan ditetapkan. Sebagaimana Saudara hendak mengoreksi calon sahabat Saudara, Saudara pun harus siap dikoreksi olehnya. Dengan demikian kita akan menemukan keseimbangan.
 
Setelah melalui tahap interoduksi, Saudara harus melihat konteks. Masuk atau tidak kriteria yang Saudara tetapkan dengan temuan-temuan Saudara dari calon sahabat tersebut.
 
Contoh: Pengalaman saya mendapatkan Bu Sudhi. Pada tahun 1972 saya kenal dia. Setelah saya mengamat-amatinya, hampir semua yang dia miliki masuk kriteria saya. Hanya satu yang belum masuk, yaitu kesamaan agama. Ketika saya ingin masuk lebih dalam, maka saya ingin menyamakan agama itu dan berhasil. Setelah semua kriteris masuk, maka kami mengambil keputusan untuk menikah.
 
Pengalaman kami ini diteru oleh anak kami, Angga. Pernah suatu ketika dia berkenalan dengan seorang gadis yang tidak seiman. Dia menayakan kepada saya tentang anak yang dimaksud. Saya mengatakan bahwa hampir semua kriteria Bapak masuk. Hanya satu kriteria yang belum masuk, yaitu perbedaan agama. Ketika mendengar koreksi ayahnya, maka bebarapa waktu kemudian hubungan itu putus.

LIMA TAHAPAN MENEMUKAN SAHABAT SEJATI

  1. Konstruktif.

Sahabat sejati harus memenuhi kriteria konstruktif. Maksudnya, setelah kita berkenalan, calon sahabat kita itu harus mau memberi dan menerima, berjalan dalam kebersamaan, sama-sama tertawa dan sama-sama menangis, menumbuhkan semangat dan gairah, memberi nilai tambah yang positip. Jika tidak memenuhi kriteria ini harap dipertimbangkan untuk tidak dilanjutkan. Mengapa demikian? Jangan-jangan justru Saudara yang jatuh dari persahabatan itu. Kalau dengan bersahabat dengan dia justru Saudara mundur dari ibadah, dari pelayanan, nilai sekolah atau kuliah menjadi merosot, apa gunanya? Saudara sedang menuju kehancuran. Berhati-hatilah!
 
Contoh: Ada seorang hamba Tuhan yang mengaku sebagai sahabat sejati terhadap hamba Tuhan yang lain. Suatu ketika dia menyampaikan kegembiraannya kepada hamba Tuhan sahabatnya itu, bahwa gerejanya maju pesat. Jemaatnya bertambah-tambah. Tetapi hamba Tuhan sahabatnya itu menyambut dengan air mata bercampur kemarahan. Mengapa? Karena pertambahan jemaatnya itu berasal dari jemaat yang digembalakan oleh saahabatnya itu. Ini bukan sahabat sejati.
 
Amsal 17:9: ”Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.”
  1. Mau menerima apa adanya.

Hal ini pun berlaku timbal-balik. Sebelum Saudara diterima apa adanya oleh calon sahabat Saudara, Saudara harus terlebih dahulu menerima calon sahabat Saudara apa adanya. Menerima apa adanya dalam segala hal. Ekonomi, status, keuangan, ras/etnik, pendidikan, dsb.
 
Untuk melihat, apakah calon sahabat Saudara mau menerima Saudara atau tidak; perhatikan bagaimana sikapnya pada waktu Saudara berbuat kesalahan. Ada baiknya Saudara menguji hal ini dengan membuatnya marah. Tetapi ingat, jangan jadikan kesalahan itu untuk menyakiti dia semata-mata, tetapi hanya untuk menguji. Pada prinsipnya Saudara dibenarkan meninggalkan sahabat Saudara karena Kristus, bukan yang sebaliknya. Sebab Kristuslah sahabat Saudara yang sejati dan yang utama.
 
Contoh: Ada seorang ketua kaum muda di suatu Gereja. Pemuda ini sudah 6 tahun membina hubungan dengan seorang gadis, sampai pada waktunya mereka akan menikah. Pasangan ini berbeda etnik. Semula kedua belah pihak orang tua menyetujui. Tetapi entah mengapa, seminggu menjelang pemberkatan nikah kudus tiba-tiba ayahnya tidak setuju dan bermaksud membatalkan rencana perkawinan tersebut.
 
Gembalanya menyarankan agar saudaranya dan ayahnya datang kepada saya untuk meminta pertimbangan. Dalam perbincangan itu akhirnya saya menemukan bahwa perbedaan etnik inilah yang menjadi penyebabnya.
 
Saya tegaskan bahwa dalam pernikahan sesama anak Tuhan, kita tidak perlu mempersoalkan entik. Saya katakan kepada mereka; coba Saudara pertimbangkan. Kalau seandainya anak Saudara tidak siap menerima pembatalan itu, mereka berdua mengalami stress; apakah Saudara siap dengan keadaan mereka? Setelah merenungkan pertanyaan itu akhirnya mereka menyetujui perkawinan anaknya.
  1. Jujur.

Ams 27:5,6: ”Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”
 
Seorang sahabat sejati tidak hanya menyenangkan hati sahabatnya, tetapi juga menegor kesalahannya. Dia tidak ingin dan tidak senang sahabatnya jatuh. Jangan seperti Yudas. Sepertinya dia mencium Yesus untuk menyenangkan hatinya, tetapi sebenarnya dia mengkhianati Yesus untuk kematiannya.
 
Untuk tidak menyakiti sahabat kita ada cara menegor yang baik, yaitu tegorlah dengan 4 mata. Jika tidak berhasil bawalah saksi. Tetapi jika tidak berhasil juga Saudara boleh menegor di depan umum, bahkan diumumkan kepada jemaat (Mat 18:15-17).
 
Cara yang kedua, tegorlah kesalahan sahabat Saudara pada waktu dia sedang naik supaya dia kuat bertahan. Jangan sekali-kali menegor sahabat Saudara selagi dia sedang jatuh, sebab hal demikian akan menghancurkan mentalnya.
 
Suatu hal yang harus Saudara ingat, bahwa Saudara jangan menegor orang lain yang bersalah, jikalau Saudara sendiri tidak mau ditegor. Saudara tidak akan pernah menjadi orang baik, tetapi Saudara sedang membangun tembok penghakiman dan menghancurkan reputasi orang lain.
  1. Dapat dipercaya

Ams 11:13: ”Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.”
 
Sahabat sejati adalah sahabat yang dapat dipercaya, dapat menguasai diri dan punya komitmen. Seorang sahabat yang baik akan menjaga komitmen dan menjaga reputasi sahabatnya. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah membuka rahasia pribadi sahabatnya demi keuntungannya sendiri. Dia bukan seorang pengkhianat yang menjual sahabatnya dengan ciuman. Terlebih suka dia menderita untuk sahabatnya daripada menarik keuntungan dari persahabatannya.
  1. Rela berkorban

Yoh 15:13: ”Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
 
Sahabat sejati memberikan kasih yang sempurna. Pengorbanan itu tidak terbatas pada unsur materi, melainkan juga penderitaan pisik maupun batin. Kesetiaan seorang sahabat sejati dibawa mati. Perhatikan juga bagaimana persahabatan antara Daud dan Yonatan. Yonatan mempertaruhkan posisi dan nyawanya di hadapan Saul, ayahnya, karena Daud. Demikian juga sebaliknya Daud. Setelah menduduki tahta Israel, Daud tetap berpegang pada komitmennya terdahulu dengan Yonatan. Dia merawat Mefibosyet, anak Yonatan dan memberikan warisan neneknya kepadanya sampai akhir hidupnya.
 
Pengorbanan itu bukan tuntutan, tetapi kerelaan hati karena mengasihi. Satu hal yang harus Saudara lakukan, yaitu Saudara harus rela berkorban terlebih dahulu sebelum Saudara menerima pengorbanan sahabat Saudara.

PENUTUP

Sebagai Gembala, saya mengajak Saudara untuk berhati-hati mencari sahabat sejati. Terlebih lagi calon pasangan hidup Saudara. Tempatkan Tuhan Yesus pada urutan yang pertama dan utama, dan jangan tinggalkan Dia dengan alasan apapun.
 
Kalau memilih sahabat biasa kiranya masih ada toleransi, tetapi soal pasangan hidup, tidak! Mengapa? Sebab sekali Saudara salah memilih calon pasangan hidup, maka Saudara akan menderita seumur hidup.
 
Perhatikan petunjuk firman Tuhan di atas. Carilah sahabat sejati Saudara dengan 5 kriteria, yaitu konstruktif, mau menerima Saudara apa adanya dan sebaliknya; jujur, dapat dipercaya dan rela berkorban. Jikalau Saudara tidak mendapati kelima unsur tersebut, Saudara dibenarkan meninggalkannya. Namun sebelum keputusan itu diambil perhatikan pernyataan Tuhan Yesus ini:
 
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Mat 7:12)
 
Tuhan Yesus berkati Saudara, Amin!