Bab 5. Hidup Dalam Pengharapan

Apr 16 at 9:09pm - admin
Hidup kita sekarang berada pada posisi antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua. Selama rentang waktu ini, apakah yang hendak kita kerjakan? Gereja mula-mula sempat mengalami kebingungan, apakah yang harus mereka kerjakan selama menunggu kedatangan-Nya yang kedua. Sementara di dalam tubuh jemaat sendiri muncul berbagai pertanyaan tentang kebenaran penyaliban Kristus, kebangkitan-Nya dan ketepatan waktu kedatangan-Nya yang kedua.
 
Rasul paulus menulis: "Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya." (1 Kor 9:10)
 
Ayat ini keluar dari satu konteks umum tentang hak dan kewajiban rasul. Rasul Paulus berbicara tentang hak-haknya sebagai rasul. Sekalipun Paulus berbicara tentang hak rasul secara panjang lebar, namun dia tidak mengambil hak itu. Pengharapannya yang utama adalah mendapatkan upah penberitaan Injil yang melebihi segala upah duniawi (1 Kor 9:18,23).
 
Apakah bagian kita sebagai murid-murid Kristus yang telah dipanggil oleh-Nya masuk ke dalam Kerajaan-Nya? Selain pengharapan-pengharapan yang kita dapat di bumi ini, oleh janji-Nya pula kita akan memperoleh hidup yang kekal. Kehidupan kekal itulah yang kita nantikan sekarang. Apakah yang dapat kita kerjakan sekarang selama menantikan penggenapan pengharapan? Inilah persoalan yang menjadi pertanyaan gereja mula-mula. Bahkan beberapa kali Saksi Yehova mencoba meramalkan kedatangan Tuhan itu untuk dapat segera masuk ke dalam Kerajaan-Nya.
 
Datangnya pengharapan itu memang pasti dan tidak mengecewakan, tetapi kita juga harus ingat bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri di waktu malam. Tidak ada ketetapan waktunya. Selama kita menanti penggenapan pengharapan itu kita masih akan banyak mengalami berbagai peristiwa yang justru akan memperkokoh pengharapan kita.
 
Kita telah mengetahui bahwa janji akan penggenapan pengharapan itu pasti dan tidak mengecewakan. Oleh karena itu marilah kita arahkan mata rohani kita kepada pengharapan akan Injil dan janganlah kita mau digeser dari dalamnya (Kol 1:23). Setiap orang percaya harus berpegang teguh terhadap pengharapan yang TUHAN telah janjikan dengan berbuat segala sesuatu yang sejalan dengan maksud dan isi pengharapan itu.
 
Sikap hati yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya selama menanti pengharapan meliputi banyak hal. Hidup berjaga-jaga, hidup menghasilkan buah, hidup seperti dalam pertandingan, berpegang teguh pada pengharapan Injil, hidup berfokus pada Kristus, hidup dalam kekudusan, dalam ketekunan hidup dalam kasih dan masuk dalam kebun anggur Tuhan.
 
1. Hidup berjaga-jaga
 
Berulangkali Tuhan Yesus menasihatkan agar kita berjaga-jaga (Mat 24:42;25:13). Perumpamaan tentang pohon ara dalam Mar 13:28-35 Tuhan Yesus mengajar kita, bahwa kedatangan-Nya akan diawali dengan tanda-tanda tertentu dan kita harus tangap pada tanda-tanda itu.
 
Mengapakah kita harus berjaga-jaga? Ada 4 (empat) hal penting yang harus kita perhatikan, mengapa kita harus terus berjaga-jaga.
  • Karena kita tidak tahu kapan hari Tuhan datang (Mar 13:24-32; 1 Tes 4:13-18 band Mat 25:1-13).
  • Siap sedia dipakai Tuhan (1 Kor 3:9;2 Tim 4:2).
  • Saat kita sedang kuat, hati-hati supaya jangan jatuh (1 Kor 10:12 band Ef 6:10;2 Tim2:1).
  • Saat kita lemah pengharapan itu menjadi penghibur (Mat 11:28-30)
2. Hidup yang berbuah
 
Ada 3 (tiga) macam panggilan yang diajarkan oleh Alkitab, yaitu panggilan untuk bertobat, panggilan untuk melayani dan panggilan untuk hidup kudus. Panggilan untuk bertobat menuntut pada setiap orang percaya untuk menghasilkan buah dari pertobatan itu (Mat 3:8;Luk 3:8). Wujud dari buah pertobatan itu adalah perbuatan-perbuatan baik yang menyenangkan hati Tuhan dan sesama (Gal 5:22-23). Lebih dari itu buah pertobatan itu dapat berupa pemenangan jiwa-jiwa.
 
Pada peristiwa Tuhan Yesus mengutuk pohon ara yang tumbuh di tepian jalan, mengajar kita bahwa Tuhan menghendaki buah itu tanpa peduli, apakah pohon itu liar atau tumbuh di dalam pemeliharaan. Tuhan juga tidak mau tahu apakah pada waktu itu musim buah ara atau bukan. Oleh sebab itu agar setiap orang percaya dapat menghasilkan buahnya dengan baik dan berbuah setiap waktu, maka kita harus hidup dalam persekutuan dan dalam penggembalaan (Luk 13:6-9 band Yoh 15:1-8).
 
Jikalau toh ternyata bahwa sudah hidup dalam persekutuan dan di dalam penggembalaan, namun tidak berbuah juga, maka berhati-hatilah, jangan Tuhan sendiri memerintahkan agar pohon ara itu ditebang (Mat 3:10).
 
3. Hidup seperti dalam pertandingan
 
Allah tidak menginginkan setiap orang percaya berdiam diri, suka diam di zona aman dan nyaman. Rasul Paulus mengajar kita supaya mengisi hidup ini laksana pertandingan (1 Kor 9:24-27). Dalam gelanggang pertandingan ada aturan main, diperlukan sportifitas untuk mencapai tujuan. Tujuan itu adalah untuk mencapai hidup kekal. Untuk mencapai hidup kekal itu setiap orang percaya harus menguasai dirinya secara sportif melakukan kehendak Allah, supaya pada akhirnya jangan kita ditolak (1 Kor 9:27).
 
4. Berpegang teguh pada pengharapan akan Injil
 
Kepada jemaat Kolose Rasul Paulus menulis bahwa kita harus bertekun dalam iman dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil (Kol 1:23). Inti dari pengharapan akan Injil itu adalah keselamatan kekal di dalam Kristus Yesus.
 
Mengapakah Rasul Paulus mengatakan demikian? Sebab di dunia ini ada banyak segala sesuatu yang kepadanya orang dapat berharap. Misalnya kepada kekayaan (Mat 6:24), kepada kekuasaan (Dan 4:28-32), kepada agama (Mat 5:20), kepada manusia (Yer 17:5-6). Akan tetapi segala sesuatu yang ada di bumi bersifat fana dan pada waktunya akan lenyap, tetapi pengharapan akan Injil adalah pengharapan yang kekal (Roma 1:16,17)
 
5. Hidup berfokus kepada Kristus
 
Kepada orang-orang Ibrani di perantauan surat Ibrani menulis bahwa kita harus meninggalkan beban dosa kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukan dengan tekun dengan mata yang tertuju kepada Kristus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita menuju kesempurnaan (Ibr 12:1,2).
 
Hidup berfokus kepada Kristus berarti tidak ada sesuatu yang lain yang patut kita perhatikan atau kita sejajarkan, apalagi lebih daripada Kristus. Segala sesuatu boleh terjadi, segala sesuatu boleh ada, tetapi Kristus tetap nomor satu. Di depan mata rohani kita kedudukan Kristus tidak bisa digantikan atau digeser oleh apapun dan oleh siapapun.
 
6. Hidup dalam ketekunan
 
Kepada Timotius rasul Paulus menulis bahwa seorang pemercaya bagaikan seorang prajurit, seorang petani atau seorang olahragawan (2 Tim 2:4-6 band Roma 8:24,25). Sebagai seorang prajurit kita harus berjuang tanpa memusingkan diri dengan persoalan-persoalan penghidupan. Sebagai seorang olahragawan kita harus bertanding dengan sportifitas yang tinggi untuk mencapai kemenangan. Demikian pula dengan seorang petani, kita harus bekerja keras untuk memperoleh hasil usaha kita.
 
Ketekunan juga diperlukan untuk menghadapi pencobaan dan pengujian. Tujuan dari pencobaan dan pengujian yang dari TUHAN adalah untuk meluruskan motivasi pengiringan kita kepada TUHAN dan memurnikan iman kita. Dan apabila kita dapat bertahan dan berjuang untuk memenangkannya, maka kita akan memperoleh segala sesuatu yang dijanjikan oleh TUHAN. Di dalam menantikan pengharapan diperlukan ketekunan agar kita tidak terlena dan tertinggal di bumi, sementara saudara-saudara kita yang lain sudah terangkat bersama Kristus.
 
Ketekunan yang harus kita kerjakan menjelang kedatangan-Nya:
  • Bertekun dalam ibadah (Kis 26:7 band Ibr 10:25).
  • Tertekun dalam perbuatan baik (Roma 2:6-8 band Gal 6:9).
  • Bertekun dalam iman (Kis 14:22 band Kol 1:23).
  • Bertekun dalam doa (Kol 4:2;Roma 12:12 band Kis 1:14).
  • Bertekun dalam membaca Kitab Suci (1 Tim 4:13 band Kis 2:42).
  • Bertekun dalam kesalehan (Ayb 2:3).
  • Bertekun dalam kesabaran (Yak 5:7).
  • Bertekun dalam kesetiaan (Roma 5:2-4).
  • Bertekun dalam kasih (1 Kor 13:4-7).
  • Bertekun dalam mengerjakan karunia Allah (Roma 12:7,8).
  • Bertekun dalam memberitakan firman (2 Tim 4:2,3).
7. Hidup dalam kekudusan
 
TUHAN berfirman bahwa kita harus hidup kudus sebagaimana Dia sendiri adalah kudus (Ul 20:26). Gereja disebut sebagai Pengantin Perempuan bagi Kristus. Dua tuntutan penting dari posisi pengantin ini adalah kesetiaan dan kekudusan. Kristus sebagai Kepala Jemaat telah menyucikan jemaat-Nya sebagaimana disaksikan oleh rasul Paulus kepada jemaat Efesus (5:25-27)
 
Jemaat yang sudah dikuduskan haruslah hidup secara kudus dengan tanda-tanda seperti berikut:
  • Hidup menurut firman Allah (Ul 28:1,2).
  • Tidak hidup di dalam dosa (Roma 6:1,2).
  • Menjauhkan diri dari penyembahan berhala (Im 19:4;Im 26:1).
  • Memelihara kesucian perkawinan (1 Kor 6:14-16 band Im 18:1-30).
  • Menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia (Ef 4:29 band Ef 5:4).
  • Tidak hidup menurut pengajaran dunia (1 Tim 1:3,4 band 1 Tim 4:7).
  • Tidak hidup menurut tradisi (Mat 19:8,90).
  • Tidak hidup secara agamawi (Mat 5:20).
  • Tidak mencemarkan diri dengan hal-hal duniawi (Kol 3:5,6 band Im 19-21).
8. Hidup di dalam kasih
 
Kepada jemaat di Roma rasul Paulus menasihatkan kepada mereka supaya hidup di dalam kasih yang ditandai dengan hal-hal berikut:
  • Tidak hidup dalam kepura-puraan,
  • menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik,
  • tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan yang baik bagi semua orang.
  • saling mendahului dalam memberi hormat,
  • tetap rajin dan bersemangat dalam melayani Tuhan,
  • bersukacita dalam pengharapan,
  • sabar dalam kesesakan,
  • bertekun dalam doa,
  • membantu kekurangan orang-orang kudus,
  • berusaha untuk memberi tumpangan,
  • hidup dalam kesehatian,
  • mengarahkan pikiran pada hal-hal yang sederhana,
  • tidak menganggap diri pandai,
  • hidup berdamai dengan semua orang,
  • tidak menuntut pembalasan,
  • memberi makan dan minum kepada seteru,
  • tidak boleh kalah dengan kejahatan, sebaliknya kalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:9-21)
 
9. Masuk ke dalam kebun anggur Tuhan
 
Tuhan Yesus bersabda bahwa tuaian itu banyak tetapi pekerja sedikit (Mat 9:35-38). Untuk itu maka Tuhan Yesus mengundang pekerja-pekerja untuk bekerja di ladang-Nya (Mat 20), namun dengan berbagai alasan orang menolaknya (Luk 14:16-24). Dengan memperhatikan bahwa:
  • misi Allah adalah untuk menyelamatkan semua umat manusia (2 Pet 3:9; 1 Tim 2:3,4; Roma 3:29);
  • Injil harus diberitakankan ke seluruh dunia sebelum dunia berakhir (Mat 24:14) dan
  • Allah telah menetapkan kita sebagai kawan sekerja-Nya (1 Kor 3:9);
  • Tuhan Yesus telah mempercayakan Amanat Agung-Nya kepada kita (Mat 28:19,20);
  • Tuhan Yesus berjanji akan menyertai kita dalam pelayanan pemberitaan Injil sampai kesudahan zaman (Mat 28:20).
  • Allah telah memberikan kerunia Roh Kudus sebagai penolong yang akan menjadi pembela kita (Mar 13:3-13).
  • Allah telah menyediakan hidup kekal bagi setiap orang yang melayani Dia (Kis 7:54-60); maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melayani Dia dan pekerjaan pelayanan-Nya.
Jangan pernah kita berkata "tidak" untuk melayani Tuhan. Sebab terlebih dahulu Dia telah memberikan talenta (Mat 25:14-30) dan karuni (Roma 12:6-8 band 1 Tim 4:14,15) sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Dan yang harus kita ingat bahwa Tuhan menuntut pertanggungan jawab dari setiap karunia yang diberikan kepada kita (Luk 12:47,48).