Bab 6. Pertanggungjawaban Pengharapan

Apr 16 at 9:06pm - admin
Suratan Petrus menulis: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu." (1 Pet 3:15,16) Tiga (3) hal penting bentuk pertanggungjawaban pengharapan kita adalah mengerjakan Amanat Agung-Nya, mengerjakan Tri Dharma Gereja dan mengembangkan 5 (lima) jawatan gereja.
 
 
 
 
 
A. MENGERJAKAN AMANAT AGUNG
 
Sebelum menyampaikan Amanat Agung-Nya Tuhan Yesus menyatakan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya (Mat 28:18). Pernyataan itu menjadi dasar dan alasan bagi-Nya untuk memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Amanat Agung-Nya. Dasar dan alasan itu telah menjadi jaminan bagi kita untuk tidak ragu-ragu mengerjakannya. Dasar dan alasan itu diteguhkan dengan janji penyertaan dan karunia Roh Kudus.
 
Dasar itu diikuti oleh amanat berikutnya yang berbunyi: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."(Mat 28:19,20).
 
Tiga (3) muatan penting dalam Amanat Agung ini ialah menjadikan semua bangsa murid Kristus, membaptis dan mengajar mereka yang bertobat. Menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus adalah sebuah visi. Visi itu harus senantiasa ada di dalam dada setiap orang percaya. Membaptis adalah menandai atau memeteraikan mereka yang telah bertobat untuk menjadi murid Kristus. Sedangkan mengajar adalah memuridkan mereka untuk bertumbuh dan menjadi dewasa rohani. Setiap pribadi orang percaya dituntut untuk memberitakan Amanat Agung (2 Tim 2:2,3 band 4:2).
 
 
 
 
AMANAT AGUNG DAN MISI ALLAH
 
Firman Allah katakan bahwa sejak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita sudah dipindahkan dari dunia kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Pet 2:9). Sejak itu kita memiliki dwikewarganegaraan. Satu sisi kita adalah warga neraga kerajaan dunia, tetapi pada sisi lain yang terlebih penting adalah kewargaan sorga (Ef 2:19). Pernyataan ini dipertegas oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa kita ini bukan berasal dari dunia ini, sama dengan Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh 17:16). Dunia ini bukanlah tempat tinggal kita yang permanen, tetapi hanya untuk sementara (1 Pet 1:17).
 
Sejalan dengan itu, maka selama kita hidup di bumi ini kita membawa misi Allah. Apakah misi Allah itu? Untuk dapat mengerti misi Allah, terlebih dahulu kita harus mengerti isi hati Allah atas dunia ini. Allah menyatakan bahwa Dia menghendaki agar semua manusia diselamatkan (2 Pet 3:9;1 Tim 2:3,4;Roma 3:29). Untuk itu maka Amanat Agung adalah materinya dan Roh Kudus adalah motornya. Motor itu telah dilandasi oleh otoritas mutlak bahwa segala kuasa di bumi dan di sorga sudah ada di tangan-Nya. Oleh sebab itu maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak megerjakan Amanat Agung.
 
 
 
 
B. MENGEMBANGKAN TRI DHARMA GEREJA
 
Gereja disebut sebagai lembaga ilahi yang ditempatkan di dunia untuk mengerjakan misi Allah, yaitu menyelamatkan dunia. Dalam mengerjakan misi Allah Gereja harus mengerjakan 3 (tiga) hal penting, yaitu persekutuan (Koinonia), pelayanan (diakonia) dan kesaksian (marturia).
 
1. Persekutuan (Koinonia)
 
Rasul Petrus menulis, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:" (1 Pet 2:9).
 
Kata "kamu" itu bertsifat kolektif, yaitu bangsa pilihan. Mereka adalah umat kepunyaan Allah yang dipersatukan dalam persekutuan. Persekutuan ini berdemensi 2 (dua), yaitu bersekutu dengan Allah dan sekaligus bersekutu dengan sesama. Dalam persekutuan dengan Allah kita bersekutu dalam kasih-Nya, dengan firman-Nya, dengan kebenaran-Nya, dengan terang-Nya, dengan kekudusan-Nya dan dengan Roh-nya. Dalam persekutuan dengan Allah kita memperoleh pemulihan hubungan dengan-Nya, memperoleh status sebagai anak, menerima hak waris dan transformasi kuasa-Nya. Sedangkan bersekutu dengan sesama kita bersekutu dalam kasih, dalam pengharapan dan dalam pelayanan (Kis 2:41-47;4:32-37). Persekutuan ini harus kita kerjakan sampai Tuhan Yesus datang (Ibr 10:25).
 
2. Kesaksian(Marturia)
 
Saksi adalah orang yang memberi kesaksian tentang sesuatu yang ia sendiri telah melihatnya, mendengarnya dan atau mengalaminya. Kesaksian adalah berita yang bercerita tentang suatu kejadian yang sesunguhnya dan yang telah dilihatnya, didengarnya atau dialaminya sendiri secara langsung (Yes 43:10;44:8;1Yoh 1:1-4).
 
Dalam Perjanjian Baru para Rasul adalah saksi-saksi utama tentang hidup, pelayanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus (Yoh 21:24;Kis 1:22;2 Pet 1:6). Hakikat kesaksian dalam Kekristenan modern adalah berita yang hidup di dalam diri seseorang sebagai akibat dari karya Allah di dalam dirinya, sehingga menjadi pengalaman pribadi yang tidak dapat disangkal. Berita itu bisa berwujud kisah atau cerita, dapat juga berupa pengalaman-pengalaman pribadi, tetapi dapat juga gaya hidup Kristen yang dapat dibaca oleh orang-orang di luar Kristen (2 Kor 3:3).
 
Dalam prakteknya kesaksian yang hidup adalah kesaksian yang dikerjakan atau didorong oleh kuasa Roh Kudus di dalam diri seseorang (Kis 1:8). Kesaksian yang pertama telah dilakukan oleh para Rasul. Mereka adalah orang-orang yang hidup dan melayani bersama-sama dengan Kristus. Mereka melihat dan mengalami segala peristiwa yang dilakukan oleh Kristus. Dan segala sesuatu yang telah mereka lihat, dengar dan alami itulah yang mereka saksikan kepada dunia (Kis 5:32). Kesaksian bukanlah hanya menjadi tanggung jawab para rasul semata-mata. Sejalan dengan pernyataan Kis 1:8 di atas, maka kesaksian itu merupakan tanggung jawab kita juga. Roh Kudus-lah yang menjadi motor penggerak kesaksian itu.
 
Mengapa kesaksian itu harus dilakukan oleh setiap orang percaya? Sebab kesaksian itu perintah dan di dalamnya mengandung kuasa. Kesaksian yang benar dari orang percaya dimaksudkan untuk memuliakan Allah. Berguna untuk menguatkan diri sendiri, sebagai tanda pengucapan syukur, untuk menguatkan sesama dan mengalahkan Iblis (Why 12:10,11).
  • Kuasa kesaksian
    • Yohanes menulis: "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Why 12:11). Ayat ini adalah potongan nyanyian pujian malaikat di sorga atas kemenangan Anak Domba atas Iblis. Dua senjata penting untuk mengalahkan Iblis adalah darah Anak Domba dan perkataan kesaksian kita. Lebih jauh, tujuan kesaksian ialah untuk mengungkapkan rasa syukur, untuk meneguhkan jiwa-jiwa yang lemah, untuk memasyhurkan nama Allah dan untuk memenangkan jiwa-jiwa. Oleh karena itu, maka setiap orang percaya harus berani bersaksi dan tidak boleh berhenti bersaksi. Keberanian bersaksi merupakan bukti bahwa rohani kita hidup dan roh kita menyala-nyala bagi kemuliaan Allah.
  • Wujud kesaksian
    • Kita mengenal 4 (empat) cara bersaksi, yaitu bersaksi melalui perbuatan, melalui mujizat, melalui ketekunan dalam menanggung penderitaan dan kesaksian dengan perkataan. Keempat cara bersaksi ini memang dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan.
      • Bersaksi dengan perbuatan Kesaksian yang efektif pada urutan pertama ialah bersaksi dengan perbuatan. Perhatikanlah kehidupan jemaat mula-mula. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka menunjukkan persekutuan yang kuat dan hidup saling berbagi satu dengan yang lain. Mereka hidup dalam kebajikan dan kemurahan hati, memiliki ketulusan hati, kegembiraan dan bertekun dalam ibadah. Oleh karena pebuatan mereka inilah, maka mereka disukai semua orang. Dan buahnya Allah menambah-nambahkan bilangan orang-orang yang diselamatkan (Kis 2:41-47;4:32-36)
      • Bersaksi dengan mujizat Tuhan Yesus sendiri melakukan pelayanan-Nya dengan banyak mujizat dan tanda-tanda. Oleh kuasa Roh Kudus para Rasul memberitakan Injil dengan disertai tanda-tanda dan mujizat. Pengaruh yang ditimbulkan dari penginjilan mereka adalah banyaknya orang yang bertobat dan menjadi percaya (Kis 8).
      • Bersaksi dengan bertahan dan bertekun dalam penderitaan Oleh karena mempertahankan iman mereka, para Nabi dan Rasul dan orang-orang kudus rela menderita dan bertahan dalam penderitaan. Aniaya terhadap jemaat mula-mula mendatangkan persebaran dan pertumbuhan Gereja. Kita ingat pula peristiwa bahwa kematian Stefanus mendatangkan pertobatan bagi Saulus (Kis 7-9). Dan pertobatan Saulus mendatangkan pertobatan banyak orang dan menumbuhkan banyak gereja.
      • Bersaksi dengan perkataan Oleh kuasa dan pertolongan Roh Kudus para Nabi, Rasul dan orang-orang kudus bersaksi dengan berani. Perhatikan kesaksian Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Dan 3:17,18); Rasul Paulus (Kis 22:30-23:11); Stefanus (Kis 7) dlsb. Mereka menyampaikan kesaksian tanpa mengenal rasa takut.
3. Pelayanan (diakonia)
 
Pelayanan diakonia disebut sebagai pelayanan meja (Kis 6:1-7), yaitu melayani anggota jemaat yang berkekurangan. Janda-janda, orang-orang tua, anak-anak telantar dan orang-orang lemah lainnya yang memerlukan perhatian Gereja. Pelayanan meja ini setara dengan pelayanan firman, sebab apalah artinya firman diberitakan tetapi tidak disertai dengan bukti-bukti perbuatan kebenaran (Yak 2:17).
 
Pelayanan meja ini menjadi amat penting, sebab akan dievaluasi oleh Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua (Mat 25). Pada hari penghakiman terakhir Tuhan Yesus akan memisahkan Gereja-Nya yang melakukan pelayanan meja dan yang tidak melakukannya. Mereka yang melakukan pelayanan meja akan mendapat bagiannya dalam Kerajaan Sorga, tetapi orang-orang yang tidak melakukannya dilenyapkan-Nya. Jikalau demikian sampai kapankan diakonia ini kita kerjakan? Sampai Tuhan Yesus datang.
 
 
 
 
C. MENGEMBANGKAN 5 (LIMA) JAWATAN GEREJA
 
Kepada jemaat Efesus rasul Paulus menulis bahwa Tuhan sendirilah yang memberikan kelima jawatan gereja. Masing - masing adalah Jawatan Kerasulan, Jawatan Kenabian, Jawatan Pemberitaan Injil, Jawatan Penggembalaan dan Jawatan Pengajaran.
 
Penetapan jawatan-jawatan itu dimaksudkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan Tubuh Kristus. Perlengkapan mana setiap orang kudus tersebut haruslah mencapai kesatuan iman dan memiliki pengetahuan yang benar tentang Anak Allah.
 
Lebih jauh setiap orang kudus harus mencapai kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Hasil akhir yang diinginkan supaya orang-orang kudus tersebut tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan, tetapi tetap berpegang teguh pada kebenaran di dalam kasih dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus, Sang Kepala Gereja (Ef 4:11-15).
 
1. Jawatan Kerasulan
 
Secara formal jabatan rasul abad ini sudah tidak ada. Tetapi TUHAN sanggup mengangkat rasul-rasulnya pada zaman ini menurut rencana-Nya. Jawatan kerasulan ialah lembaga gereja yang mewadahi kegiatan penanaman gereja dalam rangka mengemban Amanat Agung. Rasul adalah orang - orang yang dipanggil secara khusus untuk meneguhkan dan menguji pelayanan kenabian Perjanjian Lama. Mereka menjadi saksi hidup pelayanan Tuhan Yesus di bumi dan memberitakan kesaksian itu kepada dunia (1 Kor 12:28-30). Secara praktis pelayanan kerasulan adalah melayani jemaat dengan mengaplikasikan karunia-karunia roh masing-masing setara dengan pelayanan kenabian dan pengajaran. Tiga hal penting terkait dengan pelayanan kerasulan ialah perintisan jemaat, membangun jaringan kerjasama dan pelatihan pemimpin.
  • Perintisan jemaat (Church Planting)
    • Perhatikanlah perjalanan rasul Paulus memberitakan Injil ke seluruh Timur Tengah. Di mana tanah dipijak dan Injil diberitakan, di sana gereja berdiri. Dalam kondisinya yang sekarang Gereja harus mempunyai program untuk merintis cabang atau satelit. Di mana kelak cabang atau satelit itu akan berdiri sebagai gereja.
  • Membangun jaringan kerjasama (Net working)
    • Para Rasul itu tidak bisa bekerja sendiri. Mereka memerlukan jejaring, kerjasama dan bersinergi dengan pelayan-pelayan atau jawatan-jawatan yang lain. Sepanjang Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus disebutkan bahwa para Rasul itu bekerjasama dengan pelayan-pelayan yang lain. Misalnya Silas, Apolos, Akwila, Priskila, Markus, Barnabas, dsb.
Dalam bentuknya yang sekarang kerjasama itu sudah dilakukan dengan membangun sinergi dengan gereja-gereja Tuhan dari denominasi yang berbeda. Misalnya pendirian Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) atau persekutuan-persekutuan oikomen lainnya, sebagai satu kesatuan dengan sesama anggota Tubuh Kristus.
  • Pelatihan pemimpin (Leader Raising)
    • Menyadari bahwa pada akhirnya para Rasul ini akan meninggal dunia, maka sebelum segala sesuatu terjadi mereka harus mempersiapkan pengganti. Misalnya rasul Paulus mempersiapkan Timotius (1 Kor 4:17 dayb). Gereja masa kini harus sadar akan hal ini. Perhatian kepada kaum muda saat ini menjadi penting, karena merekalah yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan. Mempercayakan kepemimpinan kepada kaum muda dan melatih mereka untuk memimpin adalah strategi yang harus dikembangkan.
 
 
2. Jawatan Kenabian
 
Sebagaimana Jawatan Kerasulan, secara formal Jabatan Kenabian abad ini memang tidak ada, tetapi Allah sanggup memunculkan nabi-nabi-Nya di zaman modern ini. Nabi adalah orang yang dipanggil dan dipilih Allah untuk menerima wahyu dan kemudian menyampaikannya kepada seseorang atau suatu bangsa, dengan tujuan seseorang atau suatu bangsa itu bertobat.
 
Contoh:
  • Samuel dipilih TUHAN untuk mengingatkan keluarga imam Eli maupun umat Israel (1 Sam 3).
  • Yunus dipilih TUHAN untuk mengingatkan penduduk Ninewe (Yun 1-4)
  • Elia dipilih TUHAN untuk memperingatkan Ahab, raja Israel dan umat Israel pada umumnya (1 Raja 20:35-21:1-29).
Jawatan Kenabian bisa berfungsi sebagai alat yang dipakai Allah untuk berbicara dengan manusia secara perorangan, kelompok maupun suatu bangsa. Nabi adalah Jurubicara Allah yang mewakili Allah untuk berkomunikasi kepada manusia. Apa yang dikatakannya berasal dari dorongan Roh Allah, bukan atas dasar kemauan sendiri. Dalam menyampaikan berita dari Allah, seorang nabi bisa dalam bentuk perkataan (Ibr 1:1) maupun perbuatan (Hos 1-3)
 
Tugas-Tugas Pelayanan Jawatan Kenabian:
  • Menyampaikan berita dari TUHAN berupa nubuat dan peringatan bagi mereka yang tidak taat (1 Sam 2:27-36), memberi semangat dan dorongan kepada orang-orang yang masih setia dan taat kepada Allah (2 Raja 20:1-11).
  • Menyampaikan berita dari TUHAN yang ditunjukan kepada masyarakat secara langsung yang menyangkut persoalan agama, sosial dan politik yang sedang terjadi selama nabi yang bersangkutan hidup (1 Raja 18:20-46).
  • Menyampaikan berita tentang prinsip-prinsip ilahi yang tetap berlaku sepanjang masa (Kel 20:1-17).
  • Menegur dan menyadarkan bangsa Israel untuk selalu taat kepada perintah-perintah TUHAN (Yoh 3:1-20). Dalam bentuknya yang sekarang pelayanan jawatan kenabian dilakukan oleh gereja atau oleh para Hamba Tuhan untuk menyampaikan pesan atau peringatan Allah kepada seseorang, Pemerintah maupun suatu bangsa.
 
3. Jawatan Penginjilan
 
Tuhan Yesus adalah Penginjil Agung kita. Selama pelayanan-Nya senantiasa berkeliling kota dan desa untuk memberitakan Injil. Semangat pelayanan-Nya itu dituangkan dalam Amanat Agung-Nya. Injil keselamatan harus diberitakan kepada dunia. Sasaran penginjilan gereja adalah orang-orang Kristen yang belum lahir baru dan orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil.
 
Tuhan Yesus adalah Penginjil Agung. Sebelum lahir telah dinubuatkan (Yes 41:27;52:7; 40:9;61:1,2) dan sesudah lahir Dia menggenapinya (Luk 4:18,19,21b;8:1;Mat 11:5). Secara konkrit telah dilakuakan-Nya kepada perempuan Samaria (Yoh 4:10-26). Untuk selanjutnya penginjilan Tuhan Yesus diteruskan oleh para Rasul dengan pertolongan Roh Kudus (Kis 2 dst band 2 Tim 4:2). Secara kelembagaan penginjilan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kualifikasi tertentu dan mendapat legalitas untuk tugas itu. Akan tetapi secara perorangan tugas pelayanan penginjilan dilakukan oleh setiap orang percaya yang sudah lahir baru. Kemauan untuk memberitakan Injil merupakan salah satu bentuk kasih kita baik kepada TUHAN maupun kepada sesama.
 
Oleh sebab itu pemberitaan Injil bukanlah merupakan kewajiban semata-mata, melainkan juga merupakan tanggung jawab dari setiap orang percaya. Namun, disadari bahwa tidak semua orang percaya memiliki kualifikasi untuk tugas pelayanan pemberitaan Injil. Meskipun demikian tidaklah tertutup kemungkinan bagi setiap orang percaya untuk melakukan tugas ini. Kalaulah secara intelektual seseorang tidak bisa melakukannya, mungkin secara finansial seseorang dapat melakukannya dengan baik.
 
Beberapa alasan memberitakan Injil
 
  • Perintah Amanat Agung (Mat 28:1).
  • Kerajaan sorga sudah dekat (Luk 10:11).
  • Sebelum dunia berakhir Injil Kerajaan Allah harus sudah diberi- takan ke seluruh dunia (Mat 24:14)
  • Karena dorongan kasih Kristus (2 Kor 5:14).
  • Karena perasaan berhutang (Roma 1:14,15).
  • Karena pengharapan maranatha (Mat 24:14).
  • Untuk mengumpulkan harta di sorga (Mat 6:19,20).
 
Seorang Penginjil dituntut untuk memberitakan firman baik atau tidak baik waktunya (2 Tim 4:2), supaya pada akhirnya jangan tertolak (1 Kor 9:27).
 
4. Jawatan Penggembalaan
 
Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung telah menyelesaikan tugas-Nya dengan sempurna. Sebagai Gembala yang baik Dia memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11). Sepanjang pelayanan-Nya Tuhan Yesus telah mempersiapkan Simon Petrus untuk tugas penggembalaan itu (Yoh 21:15-26). Pertanyaan yang sama diajukan Tuhan Yesus kepada Simon Petrus sampai tigakali, apakah Simon Petrus mengasihi Tuhan Yesus. Hal itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya tugas penggembalaan.
 
Menggembalakan berarti menjaga domba-domba Allah agar mereka tidak berbuat dosa, tidak tersesat, tidak telantar, tidak binasa, tetapi tetap berada di jalan keselamatan Allah (Yeh 33:8,9,13-16 band Maz 23).
 
Secara rinci Yehezkiel dan Pemazmur menulis tugas-tugas pelayanan penggembalaan sebagai berikut:
  • Memberi makan dan minum kepada domba-dombanya dalam kelimpahan.
  • Mendidik dan mengajar domba-dombanya yang bodoh.
  • Menyegarkan jiwa-jiwa mereka yang kalut.
  • Mengurapi mereka dengan minyak.
  • Membimbing dan menuntun mereka ke jalan yang benar.
  • Menyertai domba-domba itu ke manapun mereka pergi.
  • Memberi penghiburan terhadap domba-domba yang susah.
  • Memberikan perlindungan dan rasa aman terhadap domba- dombanya.
  • Mencari domba-domba yang terhilang.
  • Membawa pulang domba-domba yang tersesat.
  • Membalut domba-domba yang terluka.
  • Menguatkan domba-domba yang sakit.
  • Melindungi dan menguatkan yang kuat dan yang gemuk (Yeh 34 band Maz 23).
 
 
 
 
KESAKSIAN NABI ZAKHARIA TENTANG PENGGEMBALAAN
 
Kitab nabi Zakharia 11:4-17 menceritakan tentang adanya 2 (dua) macam gembala, yaitu gembala yang pandir dan Gembala yang sejati. Gembala yang pandir meliputi 3 (tiga) unsur, yaitu kelompok Imam, kelompok tua-tua dan Ahli-ahli Taurat. Mereka menolak Gembala Sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Mereka tidak mengindahkan domba-domba yang lenyap, tidak mencari yang hilang, tidak menyembuhkan yang luka, tidak memelihara yang sehat, tidak berbelas kasihan, mencabut kuku dari domba-domba itu, menjualnya dan bahkan memakan dagingnya. Suatu peringatan keras bagi para Gembala yang pandir, yaitu gembala-gembala yang meninggalkan domba-domba dan yang tidak menggembalakan dengan baik dan benar terhadap domba-domba Allah. Peringatan itu bunyinya, "Celakalah gembala-Ku yang pandir, yang meninggalkan domba-domba! Biarlah pedang menimpa lengannya dan menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya!" (11:17).
 
 
 
 
TUHAN YESUS GEMBALA YANG BAIK
 
Tuhan Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala Yang Baik (Yoh 10:1-10). Sebagai Gembala Yang Baik, Tuhan Yesus amat peduli kepada domba-domba-Nya, setia menggembalakan mereka dan bahkan mempertaruhkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Dia menuntun domba-domba itu dalam satu kawanan yang digembalakan-Nya sendiri. Domba-domba itu adalah kita. Hendaklah kita mendengarkan suara-Nya, mengikuti jalan-Nya, taat kepada-Nya dan hidup dalam penggembalaan-Nya.
 
 
 
KUALIFIKASI GEMBALA JEMAAT
 
Dalam pengertian yang lebih luas sebutan Gembala dapat diberikan kepada seseorang atau setiap orang yang kepadanya dipercayakan untuk menjaga dan memelihara jemaat Tuhan. Dalam pengertian ini, maka setiap orang adalah gembala bagi sesamanya (Kej 4:9). Akan tetapi dalam pengertian khusus sebutan Gembala lazim diberikan kepada seseorang yang menjaga dan memelihara jemaat TUHAN. Menjaga dan memelihara itu bersifat menyeluruh; meliputi keselamatan tubuh, jiwa maupun rohaninya.
 
Tentang kualifikasi seorang Gembala Surat Timotius menulis, bahwa seorang Gembala haruslah seorang kepala keluarga yang anak-anaknya hidup beriman, hidup tertib, tidak angkuh, bukan pemberang, tidak serakah, suka akan yang baik, adil, saleh, dapat menguasai diri, berpegang pada perkataan yang benar yang sesuai dengan ajaran sehat (1 Tim 3:1-7).
 
Dalam penggembalaannya, seorang Gembala harus menggembalakan domba-dombanya tidak dengan paksa, tetapi dengan sukarela; tidak boleh mencari keuntungan tetapi dengan pengabdian; tidak dengan paksa, tetapi dengan sukarela; tidak boleh mencari keuntungan tetapi dengan pengabdian; tidak memerintah, tetapi menjadi teladan (1 Pet 5:1-3)
 
 
 
 
UPAH GEMBALA
 
Menjadi gembala bukanlah jabatan yang ringan dan mudah. Oleh karena itu di dalam tugas dan tanggung jawabnya yang demikian berat, Allah melindungi dan memberikan hak-haknya sebagai gembala-Nya yang benar.
  • Jemaat tidak boleh mengusik keberadaan gembala. Hanya Allah saja yang berhak menegor dan mendidiknya (Maz 105:15;1 Taw 16:22).
  • Gembala berhak atas daging, susu dan bulu dari domba-domba gembalaannya (Yeh 34:3).
  • Milik pusakanya adalah TUHAN sendiri, sebagaimana TUHAN memilikinya (Yeh 44:26-30)
 
 
5. Jawatan Pengajaran
 
Tuhan Yesus adalah Guru Agung kita. Bahkan bukan hanya Guru, tetapi Guru dan Tuhan (Yoh 13:13). Sebagai Guru Agung dan Tuhan, Tuhan Yesus menjadi model atau figur bagi setiap pengajar dan sumber bahan pengajaran bagi Gereja-gereja Tuhan. Karakteristik pengajaran Tuhan Yesus adalah mengasihi dan melayani (Yoh 13:14). Jawatan Pengajaran merupakan realisasi atau kelanjutan dari Amanat Agung Tuhan Yesus. Jawatan Pengajaran bertugas untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan (Ef 4:12), memandu dan memfasilitasi jemaat bertumbuh dan menjadi dewasa secara rohani. Lebih jauh Jawatan Pengajaran bertugas juga untuk membekali jemaat dan utamanya kepada para pelayan, agar pelayanan mereka lebih berkualitas. Memperlengkapi jemaat dan para pelayan dengan pengajaran firman Tuhan yang memadai dan melatih mereka supaya cakap mengajar sesuai dengan kemampuan masing-masing.
 
Tujuan pengajaran
 
Setidak-tidaknya kita dapat menemukan 2 (dua) tujuan pokok yang hendak dicapai jawatan pengajaran, yaitu untuk mencapai kedewasaan rohani dan mencapai kesempurnaan hidup sebagai orang percaya.
  • Untuk mencapai kedewasaan rohani.
    • Kepada jemaat Kolose rasul Paulus menulis, mengapa jemaat harus masuk ke dalam pemuridan supaya berakar di dalam Kristus, dibangun di atas Kristus, bertambah teguh dalam iman (Kol 2:6-7). Kepada jemaat di Kolose rasul Paulus juga menulis, bahwa dengan masuk ke dalam pemuridan jemaat akan mencapai kesatuan iman, memperoleh pengetahuan yang benar tentang Allah, mencapai kedewasaan rohani yang penuh, mencapai tingkat pertumbuhan rohani yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, supaya tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran palsu, tetap berpegang teguh pada kebenaran, bertumbuh di dalam kasih, bertumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus (Ef 4:13-15, band juga dengan I Tim 4:1-16; II Tim 2:14-26). Secara mendasar kedewasaan rohani itu ditandai dengan sikap bergantung yang mutlak kepada Allah.
    • Untuk mencapai kesempurnaan. Kepada orang-orang Ibrani di perantauan, rasul Paulus menulis bahwa tujuan mempelajari firman Allah adalah untuk mencapai kesempurnaan iman kita.
  • Dalam proses mencapai kesempurnaan itu kita akan melewati beberapa tahapan, yaitu:
    • meninggalkan semua beban dosa yang merintangi kita;
    • berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan dengan mata yang tertuju kepada Kristus. Kesempurnaan itu ditandai dengan pengenalan yang sempurna akan Kristus dan keserupaan dengan-Nya (2 Kor 3:18).
 
 
 
KUALIFIKASI PENGAJAR
 
Kualifikasi moral seorang pengajar tidak berbeda dengan tuntutan bagi seorang gembala. Perhatikan kembali 1 Tim 3:1-7 dan Surat Titus 1:6-9 di atas. Secara operasional seorang pengajar diperlukan kecakapan untuk mengajar dengan:
  • memiliki kemauan dan kemampuan untuk mendalami ilmunya,
  • memiliki kemauan dan kemampuan untuk menguasai firman TUHAN,
  • lahir baru,
  • tidak hidup dalam dosa,
  • penuh dengan Roh Kudus,
  • dapat menafsirkan firman Tuhan dengan benar,
  • fasih bicara,
  • mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang diajarnya (2 Tim 2:2;3:16;Kis 18:24).
  • Dapat menguasai lidah (Yak 3:1)
 
TUNTUTAN TERHADAP PENGAJAR
 
Rasul Yakobus menlis, "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat."(Yak 3:1).
 
Hal itu terkait dengan penggunaan lidah. Sampai dengan ayat 12 dikatakan, bahwa lidah adalah anggota tubuh yang paling buas dan susah dijinakkan. Padahal guru atau pengajar modalnya adalah bicara. Oleh sebab itu seorang yang menginginkan jabatan sebagai pengajar harus mampu mengendalikan lidahnya, sebab di dalam banyak bicara pasti terjadi pelanggaran (Ams 10:19) dan setiap perkataan sia-sia harus dipertanggungjawabkan (Mat 23:36).
 
Pengajar sebagai kaum Lewi, nabi Maleakhi menyatakan bahwa dari mulut pengajar akan keluar pengajaran yang benar, sehingga membuat jemaat menyimpang dan tergelincir dan merusakkan perjanjian dengan Allah (Mal 2:6-8). Untuk yang demikian Allah memperingatkan, "Maka Aku pun akan membuat kamu hina dan rendah bagi seluruh umat ini, oleh karena kamu tidak mengikuti jalan yang Kutunjukkan, tetapi memandang bulu dalam pengajaranmu." ( Mal 2:9).